Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan global mencapai puncaknya hari ini, Kamis (9/4), dengan laporan penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran menyusul serangan militer Israel di Lebanon. Langkah ini, yang berdampak pada 20 persen pasokan minyak dunia, menambah daftar panjang gejolak yang juga melibatkan kemarahan Presiden AS Donald Trump terhadap NATO dan tuntutan pemakzulan dari warganya sendiri.
Otoritas Iran, melalui media pemerintah Fars, mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Rabu (8/4) waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah Israel melancarkan serangan terhadap kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Meskipun ketegangan memuncak, dua kapal tanker, NJ Earth milik Yunani dan Daytona Beach berbendera Liberia, dilaporkan berhasil melintasi selat strategis tersebut sebelum penutupan terbaru, menjadi yang pertama sejak gencatan senjata sementara AS-Iran diumumkan.

Situasi di Lebanon sendiri memanas. Hizbullah, pada Kamis (9/4) pagi, menembakkan rentetan roket ke arah kibbutz Manara di Israel, dekat perbatasan Lebanon. Aksi ini diklaim sebagai respons atas "pelanggaran" gencatan senjata Amerika Serikat-Iran dan serangan mematikan Israel di Lebanon sehari sebelumnya, yang oleh kelompok militan tersebut disebut sebagai "hak" untuk menanggapi.
Di sisi lain Atlantik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan kekesalannya terhadap NATO. Setelah pertemuan tertutup dengan Kepala Aliansi, Mark Rutte, Trump mengkritik negara-negara anggota yang menolak bergabung dalam perangnya melawan Iran. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, bahkan menyebut konflik AS-Israel dengan Iran sebagai "ujian" yang gagal dilewati aliansi tersebut, karena negara-negara anggota enggan menyumbangkan pasukan militer. Kekhawatiran akan kemungkinan AS menarik diri dari aliansi pertahanan berusia delapan dekade ini semakin menguat, dengan isu Greenland kembali disebut-sebut dalam konteks frustrasi Trump.
Tekanan terhadap Trump tidak hanya datang dari luar. Sebuah jajak pendapat terbaru yang dilaporkan Newsweek pada Rabu (8/4) menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika Serikat, yakni 52 persen dari 790 pemilih terdaftar, mendukung pemakzulan Presiden Trump. Tuntutan ini muncul lebih dari 40 hari setelah koalisi militer AS-Israel melancarkan perang terhadap Iran, dan didorong oleh kelompok-kelompok advokasi seperti Impeach Trump Again dan Free Speech for People yang menentang kebijakan perang Trump dan sejumlah kebijakan kontroversial lainnya. Perkembangan ini, sebagaimana dilansir Press TV, menggarisbawahi perpecahan mendalam di Amerika Serikat terkait arah kebijakan luar negeri dan domestik di bawah kepemimpinan Trump.
