Internationalmedia.co.id – News – Suhu politik global kembali memanas seiring dengan bangkitnya ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakuisisi Greenland, sebuah wilayah otonom di bawah kedaulatan Denmark. Keinginan yang telah lama mengemuka ini kini mencapai titik didih baru, memicu gelombang penolakan keras dari Kopenhagen dan bahkan menimbulkan kekhawatiran serius terhadap masa depan aliansi militer NATO.
Hasrat Trump terhadap pulau Arktik terbesar di dunia ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum resmi menjabat untuk periode keduanya, ia telah secara terbuka mengutarakan niatnya untuk membeli Greenland. "Kami akan menjamin keamanan Anda, membuat Anda makmur, dan bersama-sama, kita akan membawa Greenland ke tingkat yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya," ujar Trump pada Maret 2025, menegaskan pentingnya pulau tersebut dari sudut pandang keamanan militer. Ia juga menyoroti populasi yang kecil berbanding luasnya daratan.

Setelah sempat mereda, isu Greenland kembali mencuat tajam pada Desember 2025. Pemicunya adalah penunjukan Gubernur Louisiana, Jeff Landry, oleh Trump sebagai utusan khusus untuk Greenland. Langkah ini sontak menimbulkan gejolak diplomatik, memaksa Denmark untuk segera memanggil Duta Besar AS sebagai bentuk protes.
Ketegangan semakin meningkat pasca-insiden di Venezuela pada awal Maret 2026, di mana Trump kembali menegaskan klaimnya. "Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Bukan semata untuk mineralnya, tetapi jika Anda melihat garis pantai Greenland, Anda akan menyaksikan kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana," tegas Trump di dalam Air Force One yang mengudara menuju Washington DC. Bahkan, Katie Miller, istri salah satu ajudan berpengaruh Trump, Stephen Miller, mengunggah gambar bendera Greenland dengan corak bendera AS disertai tulisan ‘SEGERA’, mengisyaratkan langkah cepat.
Reaksi Denmark tak kalah sengit. Perdana Menteri Mette Frederiksen mengecam keras wacana pencaplokan ini, memperingatkan konsekuensi yang mengerikan. "Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara anggota NATO lain secara militer, maka semuanya akan berakhir," kata Frederiksen kepada TV2 Denmark, merujuk pada hancurnya fondasi keamanan yang telah dibangun NATO sejak akhir Perang Dunia Kedua. Banyak pemimpin Eropa juga menyatakan solidaritas mereka.
Senada dengan Kopenhagen, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, juga menyuarakan penolakan tegas. Melalui akun Facebook-nya, Nielsen menulis, "Cukup sudah. Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi." Ia menekankan pentingnya dialog yang menghormati hukum internasional dan melalui saluran diplomatik yang tepat.
Greenland, yang secara geografis merupakan pulau terbesar di dunia dan terletak di Kutub Utara, memiliki daya tarik strategis yang tak terbantahkan. Dengan populasi hanya sekitar 56.000 jiwa, mayoritas penduduk asli Inuit, sekitar 80% wilayahnya tertutup lapisan es tebal. Meskipun ekonominya sangat bergantung pada perikanan dan subsidi dari pemerintah Denmark, pulau ini menyimpan cadangan mineral langka, uranium, dan besi yang melimpah. Sumber daya ini diperkirakan akan semakin mudah diakses seiring dengan mencairnya es akibat pemanasan global. Keberadaan pangkalan militer Denmark dan AS di wilayah ini semakin memperkuat posisinya sebagai titik strategis vital di Arktik.
