internationalmedia.co.id – Sebuah operasi besar-besaran yang melibatkan tim gabungan Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil membongkar sebuah laboratorium narkotika rahasia atau clandestine lab terbesar di Indonesia. Operasi yang berlangsung dramatis ini berujung pada penyitaan barang bukti narkotika dalam jumlah yang sangat fantastis, yakni mencapai 1,2 ton bruto.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memaparkan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil dari pengawasan ketat selama berbulan-bulan. Jejak gelap jaringan internasional ini mulai terendus oleh pihak kepolisian sejak Februari 2026. Penyelidikan mendalam dilakukan untuk memetakan rute penyelundupan yang sangat kompleks, mulai dari kawasan Asia Tenggara hingga masuk ke wilayah Aceh.

Perjalanan kasus ini bermula ketika polisi mendeteksi adanya pergerakan ratusan kilogram liquid methamphetamine atau metamfetamin cair yang berasal dari jaringan narkotika asal Tiongkok. Barang haram tersebut dibawa melalui jalur darat dan laut yang melintasi Myanmar utara, Laos, hingga Thailand, sebelum akhirnya mendarat di Banda Aceh pada pertengahan Mei 2026.
Dalam proses investigasi, polisi berhasil mengidentifikasi dua sosok kunci yang merupakan warga negara asing (WNA) asal Tiongkok, yakni LJ (45) dan XM (42). Keduanya bukanlah pengguna biasa, melainkan ahli kimia atau peracik yang bertugas memproduksi sabu di dalam laboratorium rahasia tersebut. Pasangan peracik ini diketahui telah melakukan survei lokasi di Aceh sebelum akhirnya kembali untuk menjalankan misi produksi skala besar.
Memasuki akhir Juli 2026, intensitas pengiriman barang haram ini meningkat drastis. Hampir satu ton metamfetamin cair dikirimkan dengan modus penyamaran yang sangat rapi, yakni dimasukkan ke dalam kaleng-kaleng bermerek untuk mengelabui petugas di perbatasan. Jaringan ini juga melibatkan bantuan dari oknum warga negara Indonesia (WNI) berinisial B yang berperan dalam koordinasi logistik dan akomodasi.
Ketegangan memuncak pada Oktober 2026 saat tim gabungan mulai mengunci pergerakan para tersangka. Polisi memantau secara saksama perpindahan logistik yang melibatkan beberapa kendaraan, mulai dari Toyota Innova, Fortuner, hingga Honda Jazz. Polisi bahkan sempat mendengarkan komunikasi antara tersangka LJ dengan atasannya di Tiongkok yang berinisial LX, yang menginstruksikan agar proses produksi sabu segera dimulai.
Puncaknya, pada 22 Oktober 2026, tim gabungan melakukan penggerebekan serentak di sebuah ruko di kawasan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. Tidak hanya di Pidie, operasi ini juga menyasar empat lokasi lain di wilayah Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.
Hasil penggeledahan di ruko tersebut mengejutkan petugas. Di dalam bangunan yang disamarkan sebagai tempat usaha biasa itu, polisi menemukan sebuah laboratorium canggih yang berisi 20 drum sabu cair dan sekitar 500 kilogram sabu kristal. Total barang bukti yang diamankan mencapai 1,2 ton, sebuah angka yang menandakan betapa masifnya ancaman jaringan ini terhadap keamanan nasional. Saat ini, para tersangka tengah menjalani pemeriksaan intensif untuk membongkar seluruh jaringan internasional yang terlibat.
