Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dengan tegas menyatakan invasi Amerika Serikat (AS) ke negaranya mustahil terjadi. Pernyataan berani ini dilontarkan menyusul pengerahan lima kapal perang dan 4.000 tentara AS di kawasan Karibia, dekat perairan teritorial Venezuela. Internationalmedia.co.id melaporkan, AS mengklaim pengerahan pasukan tersebut sebagai operasi anti-narkoba. Namun, Venezuela tak tinggal diam. Mereka merespon dengan mengerahkan kapal perang dan drone untuk patroli pantai, serta merekrut ribuan anggota milisi guna memperkuat pertahanan.
"Tidak mungkin mereka bisa masuk ke Venezuela," tegas Maduro, seperti dikutip dari AFP, Jumat (29/8/2025). Ia bersumpah akan mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorial negaranya. Meskipun AS belum secara terbuka mengancam invasi, tekanan dari pemerintahan Trump yang kembali berkuasa semakin meningkat.

Maduro, yang masa jabatan ketiganya masih diperdebatkan, menjadi target utama Trump. Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump menggencarkan serangan terhadap geng-geng berpengaruh di Venezuela, beberapa di antaranya beroperasi di AS. Washington menuduh Maduro memimpin kartel narkoba "Cartel de los Soles", yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris. Baru-baru ini, AS bahkan menaikkan hadiah penangkapan Maduro menjadi US$ 50 juta (Rp 823,8 miliar).
Maduro, penerus Hugo Chavez, menuding Trump berupaya melakukan kudeta di Venezuela. Pernyataan Maduro ini tentu saja memicu pertanyaan besar: apakah klaim Maduro tersebut benar adanya? Atau, ini hanyalah strategi politik untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal Venezuela? Pertaruhannya sangat tinggi, bukan hanya bagi Maduro, tetapi juga bagi stabilitas kawasan Amerika Latin.

