Pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Sidang Umum PBB menjadi sorotan. Internationalmedia.co.id melaporkan, Trump berbicara selama 56 menit, jauh melampaui batas waktu yang ditentukan, yakni hanya 15 menit. Berbagai hal dibahas Trump, mulai dari pencapaian pemerintahannya hingga kritik pedas terhadap infrastruktur PBB yang dianggapnya buruk.
Dalam pidatonya yang disampaikan tanpa naskah—karena teleprompter rusak—Trump menyoroti isu imigrasi dan perubahan iklim. Ia menegaskan kebijakan imigrasinya tepat, berseberangan dengan pandangan aktivis HAM yang menilai para migran mencari kehidupan yang lebih baik. Lebih mengejutkan lagi, Trump menyebut perubahan iklim sebagai "tipuan" dan menyerukan kembali pada penggunaan bahan bakar fosil. Ia bahkan memprediksi kehancuran Eropa Barat akibat kebijakan imigrasi dan energi yang dianggapnya keliru.

Konflik Israel-Palestina juga menjadi topik utama. Trump menolak pengakuan negara Palestina, menyebutnya sebagai hadiah yang terlalu besar bagi Hamas. Ia mendesak pembebasan sandera dan gencatan senjata, serta menyatakan dirinya sebagai sosok yang pantas mendapatkan Nobel Perdamaian. Kritik terhadap PBB pun dilontarkan, menyinggung pengalamannya dan Ibu Negara Melania Trump yang nyaris terjatuh akibat eskalator yang rusak. Ironisnya, ia juga mengeluhkan teleprompter yang bermasalah.
Pidato Trump juga menyentil Wali Kota London, Sadiq Khan, yang dituduhnya ingin memberlakukan hukum syariah di London. Ia bahkan menyatakan inflasi di AS telah "dikalahkan," walau pernyataan tersebut bertolak belakang dengan laporan Federal Reserve beberapa hari sebelumnya. Pidato panjang ini pun menuai berbagai reaksi dan pertanyaan.
