Internationalmedia.co.id – Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, membuat sejarah dengan tiba di Gedung Putih, Amerika Serikat, untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump. Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi seorang pemimpin Suriah ke AS sejak negara itu merdeka 79 tahun lalu. Pertemuan yang berlangsung pada Senin (10/11) waktu setempat, diadakan secara tertutup, menimbulkan spekulasi tentang agenda yang dibahas.
Gedung Putih dalam pernyataannya mengkonfirmasi kedatangan al-Sharaa dan dimulainya pertemuan dengan Trump. Momen ini terjadi beberapa hari setelah AS menghapus nama al-Sharaa dari daftar hitam terorisme. Al-Sharaa, yang sebelumnya memimpin kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, telah dihapus dari daftar terorisme AS sejak Juli 2025, dan namanya secara individual dihapus pada Jumat (7/11) pekan lalu.

Berbeda dengan gaya Trump yang biasanya terbuka dengan media, pertemuan ini diadakan secara tertutup. Kedatangan dan diskusi Presiden Suriah berlangsung tanpa kehadiran wartawan, memicu rasa ingin tahu tentang isi pembicaraan.
Para pemimpin baru Suriah berusaha untuk meninggalkan masa lalu yang penuh konflik dan menampilkan citra yang lebih moderat. Utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, sebelumnya menyatakan bahwa al-Sharaa mungkin akan menandatangani perjanjian untuk bergabung dengan aliansi internasional pimpinan AS melawan ISIS.
Washington juga mendorong tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan antara Suriah dan Israel, sebagai bagian dari tujuan Trump untuk memperkuat gencatan senjata Gaza dengan penyelesaian perdamaian Timur Tengah yang lebih komprehensif.
Al-Sharaa diperkirakan akan mencari bantuan dana dari AS untuk membantu pembangunan kembali Suriah setelah perang saudara yang panjang. Sebelum bertemu Trump, ia juga bertemu dengan kepala IMF, Kristalina Georgieva, untuk membahas potensi bantuan keuangan.
Kunjungan ini terjadi setelah al-Sharaa menjadi Presiden Suriah pertama dalam beberapa dekade yang berpidato di Majelis Umum PBB di New York. Pekan lalu, Washington juga memimpin pemungutan suara Dewan Keamanan untuk mencabut sanksi PBB terhadapnya.
Selain mendekati AS, Presiden Suriah juga telah menjalin hubungan diplomatik dengan Rusia. Ia bertemu dengan Presiden Vladimir Putin pada bulan Oktober, pertemuan pertama mereka sejak Assad digulingkan, sekutu penting Kremlin. Pertemuan tertutup di Gedung Putih ini menjadi sorotan dan menimbulkan pertanyaan tentang arah baru hubungan AS-Suriah.
