Angka kematian di Jalur Gaza terus meningkat. Internationalmedia.co.id melaporkan data mengejutkan dari kantor HAM PBB: sedikitnya 1373 warga Palestina tewas saat menunggu bantuan kemanusiaan sejak akhir Mei 2025. Insiden memilukan ini terjadi di tengah penyaluran bantuan yang kontroversial dari Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), yang didukung AS dan Israel, dan dilakukan tanpa koordinasi dengan PBB.
Menurut laporan PBB, sekitar 859 kematian terjadi di sekitar pusat distribusi bantuan GHF, sementara 514 lainnya terjadi di sepanjang rute konvoi bantuan. PBB secara tegas menyatakan bahwa sebagian besar pembunuhan dilakukan oleh militer Israel. Ribuan warga Gaza setiap harinya berdesak-desakan di titik distribusi bantuan, menciptakan situasi kacau dan rawan insiden. Ironisnya, GHF membantah adanya penembakan fatal di sekitar pusat distribusinya.

Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan. Pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap masuknya barang dan bantuan selama hampir 23 bulan telah menyebabkan kelangkaan makanan, obat-obatan, dan pasokan medis yang krusial. Rumah sakit pun bergantung pada generator yang bahan bakarnya semakin menipis.
Laporan terbaru menyebutkan 11 warga Palestina tewas pada Jumat (1/8) akibat tembakan dan serangan udara Israel. Dua di antaranya tewas saat menunggu di dekat pusat distribusi bantuan. Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, merinci lima korban tewas dalam serangan di dekat Khan Younis, empat lainnya dalam serangan terpisah di Deir el-Balah, dan dua lagi tewas saat menunggu bantuan di dekat pusat distribusi GHF antara Khan Younis dan Rafah. Militer Israel, hingga saat ini, belum memberikan konfirmasi resmi terkait insiden tersebut. Tragedi ini mengungkap betapa rapuhnya situasi kemanusiaan di Gaza dan mendesak dunia internasional untuk segera mengambil tindakan.
