Bencana alam kembali menghantam Thailand. Internationalmedia.co.id melaporkan, tanah longsor dahsyat akibat hujan deras sisa Topan Kajiki telah menelan korban jiwa. Dua orang meninggal dunia dan sepuluh lainnya mengalami luka-luka di distrik Mae Jam, Chiang Mai, Rabu (27/8). Insiden ini menambah daftar panjang dampak Topan Kajiki yang sebelumnya telah menerjang China Selatan dan Vietnam.
Informasi yang dihimpun internationalmedia.co.id dari kantor berita AFP menyebutkan, beberapa provinsi di Thailand utara, termasuk destinasi wisata populer Chiang Mai dan Mae Hong Son, terdampak parah. Foto-foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kerusakan signifikan; atap rumah ambruk, pohon tumbang, dan genangan air menggenangi permukiman warga. Departemen hubungan masyarakat provinsi Chiang Mai bahkan memperingatkan potensi hujan lebat yang akan berlangsung hingga satu atau dua hari ke depan.

Lebih memprihatinkan lagi, dua orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Tim penyelamat saat ini tengah berjibaku mencari keberadaan mereka. Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand pun mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk mengungsikan barang-barang berharga ke tempat yang lebih aman dan memastikan kelompok rentan mendapatkan perlindungan.
Musim hujan di Thailand memang berlangsung dari Juni hingga September. Namun, para ahli menyoroti peningkatan intensitas cuaca ekstrem akibat perubahan iklim yang membuat prediksi cuaca menjadi semakin sulit. Bencana banjir besar tahun 2011 yang menewaskan lebih dari 500 orang dan merusak jutaan rumah menjadi pengingat akan potensi kerusakan yang lebih besar di masa mendatang. Peristiwa ini menjadi alarm bagi Thailand untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam yang semakin sering terjadi.

