Internationalmedia.co.id – News – Anjuran untuk kembali bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kini menggema di berbagai penjuru dunia, mulai dari Australia hingga Eropa. Langkah ini diambil sebagai respons mendesak terhadap krisis energi global yang semakin memburuk, dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Badan Energi Internasional (IEA) menjadi salah satu pihak yang secara aktif mendorong pembatasan perjalanan dan peningkatan kerja jarak jauh demi menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Di Australia, sejumlah korporasi besar telah mulai mengadopsi kebijakan ini. Wesfarmers, sebuah konglomerat yang membawahi merek-merek ritel populer seperti Bunnings, Kmart, Target, Officeworks, dan Priceline, mengonfirmasi penangguhan sementara perjalanan yang tidak esensial bagi tim korporatnya, termasuk penundaan penerbangan. Kebijakan ini diharapkan dapat meringankan beban pekerja yang sangat bergantung pada mobilitas kendaraan dan pertemuan tatap muka dengan klien. Menariknya, kebijakan WFH ini berjalan beriringan dengan langkah pemerintah Australia yang baru-baru ini memangkas separuh pajak bahan bakar selama tiga bulan, menghasilkan penurunan harga bensin sekitar 26,3 sen per liter dan potensi penghematan sekitar $19 untuk setiap pengisian tangki 65 liter.

Sementara itu, seruan serupa juga bergema di Eropa. Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, secara terang-terangan mendesak warga di negara-negara anggota untuk mengimplementasikan WFH guna menghemat energi. Jorgensen memperingatkan bahwa dampak krisis energi ini diperkirakan akan berlangsung lama, bahkan jika perdamaian tercapai dalam waktu dekat, kondisi normal belum akan kembali. "Semakin banyak yang dapat Anda lakukan untuk menghemat minyak – terutama solar dan bahan bakar jet – semakin baik keadaan kita," tegasnya, menyoroti urgensi penghematan.
Selain WFH, Jorgensen juga mendesak negara-negara anggota Uni Eropa untuk mengikuti rekomendasi IEA lainnya. Ini mencakup pengurangan batas kecepatan di jalan raya hingga 10 kilometer per jam, mendorong pemanfaatan transportasi publik, meningkatkan praktik berbagi kendaraan (carpooling), serta menerapkan gaya mengemudi yang lebih efisien. Krisis energi global ini sendiri berakar dari ketegangan geopolitik yang memanas, seperti konflik AS-Israel dengan Iran dan situasi di Selat Hormuz, yang secara signifikan mengganggu pasokan energi regional dan memicu lonjakan harga di seluruh dunia.

