Internationalmedia.co.id, Brigade Ezzedine Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, kembali menyerahkan dua jenazah sandera kepada Israel pada Sabtu malam. Penyerahan ini merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang tengah berlangsung, namun isu jenazah yang belum ditemukan menjadi titik krusial yang dapat menggoyahkan perjanjian tersebut.
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengkonfirmasi bahwa pasukan Israel telah menerima jenazah tersebut melalui mediasi Palang Merah. Proses identifikasi terhadap jenazah tersebut akan segera dilakukan. Sebelumnya, Hamas menyatakan membutuhkan waktu dan bantuan teknis untuk mengevakuasi jenazah-jenazah yang masih berada di bawah reruntuhan di Gaza.

Kondisi ini sempat mengancam kelanjutan gencatan senjata yang rapuh, hingga Israel menutup penyeberangan Rafah sampai pemberitahuan lebih lanjut. Israel menegaskan bahwa pembukaan kembali gerbang utama ke wilayah tersebut terkait erat dengan penemuan seluruh jenazah sandera.
"Pembukaan kembali perbatasan akan dipertimbangkan berdasarkan bagaimana Hamas memenuhi perannya dalam memulangkan para sandera dan jenazah korban, serta dalam menerapkan kerangka kerja yang telah disepakati," tegas pernyataan tersebut.
Berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat, Hamas telah membebaskan 20 sandera yang masih hidup dan menyerahkan jenazah 12 orang yang tewas, termasuk dua jenazah yang baru saja diserahkan. Sebagai imbalan, Israel telah membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan 135 jenazah warga Palestina sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober.
Sementara itu, badan-badan bantuan mendesak agar perlintasan perbatasan Rafah dari Mesir segera dibuka kembali untuk mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan berupa makanan, bahan bakar, dan obat-obatan. Di sisi lain, tim penyelamat di Gaza melaporkan adanya kekerasan baru di beberapa wilayah meskipun gencatan senjata telah disepakati.
Netanyahu sendiri memperingatkan bahwa perang di Gaza tidak akan berakhir sampai Hamas melucuti senjata dan wilayah Palestina didemiliterisasi. "Ketika itu berhasil diselesaikan — semoga dengan cara yang mudah, tetapi jika tidak, dengan cara yang sulit — maka perang akan berakhir," ujarnya dalam sebuah pernyataan di Channel 14 Israel. Netanyahu juga menyatakan niatnya untuk mengikuti pemilihan umum tahun depan dan berharap untuk kembali memenangkan jabatan Perdana Menteri.
