Internationalmedia.co.id melaporkan sebuah temuan mengejutkan dari investigasi terbaru. Sejumlah tentara Israel mengaku diperintahkan untuk menembak warga sipil Palestina yang tengah mengantre bantuan kemanusiaan di Gaza. Pengakuan ini terungkap melalui laporan investigatif yang diterbitkan oleh surat kabar Israel, Haaretz. Para tentara tersebut menyatakan penggunaan kekuatan mematikan yang tidak perlu terhadap warga sipil yang tampak tidak mengancam.
Ratusan warga Palestina telah tewas selama bulan lalu di sekitar lokasi distribusi bantuan, menurut data rumah sakit dan pejabat setempat. Menurut laporan Haaretz, yang dikutip dari Reuters dan Al Arabiya, para tentara Israel yang identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan bahwa komandan militer memerintahkan penembakan ke arah kerumunan warga Palestina untuk membubarkan mereka dan membersihkan area tersebut.

Menanggapi laporan tersebut, Advokat Jenderal Militer Israel menyatakan telah memerintahkan penyelidikan atas dugaan kejahatan perang. Pihak militer Israel sendiri membantah telah memerintahkan penembakan sengaja terhadap warga sipil. Mereka mengklaim tengah meningkatkan "respons operasional" di area distribusi bantuan dengan memasang pagar dan rambu baru, serta membuka rute tambahan.
Haaretz mengutip sumber anonim yang menyatakan bahwa sebuah unit militer khusus yang dibentuk untuk meninjau insiden yang mungkin melanggar hukum internasional, telah ditugaskan untuk menyelidiki tindakan para tentara di dekat lokasi bantuan selama bulan lalu. Militer Israel menegaskan bahwa beberapa insiden sedang ditinjau oleh otoritas terkait dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh atas setiap dugaan pelanggaran hukum atau arahan militer.
Situasi di lapangan memang mencekam. Ribuan orang berkumpul di pusat distribusi bantuan, namun hampir setiap hari terjadi laporan penembakan dan pembunuhan di rute menuju lokasi tersebut. Petugas medis melaporkan enam orang tewas akibat tembakan pada Jumat (27/6) saat berusaha mendapatkan makanan di selatan Jalur Gaza. Secara keseluruhan, lebih dari 500 orang tewas di dekat pusat bantuan yang dioperasikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Amerika Serikat atau di area jalur truk bantuan PBB sejak akhir Mei lalu.
