Serangan udara besar-besaran kembali dilancarkan Rusia ke Ukraina. Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkap fakta mengejutkan: militer Rusia menembakkan 597 drone dan 26 rudal jarak jauh dalam satu malam. Angka ini memecahkan rekor serangan sebelumnya.
Zelensky, melalui kantor berita AFP, menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas serangan brutal ini. Ia menyebut lebih dari setengah drone yang digunakan adalah jenis Shahed, drone buatan Iran. "Dua puluh enam rudal jelajah dan 597 drone serang diluncurkan," tegasnya.

Meskipun Angkatan Udara Ukraina berhasil mencegat 319 drone Shahed dan 25 rudal, sekitar 20 drone dan satu rudal berhasil mengenai lima lokasi di Ukraina. Detail mengenai lokasi dan kerusakan yang ditimbulkan masih belum diungkap secara rinci.
Kejadian ini membuat Zelensky mendesak negara-negara Barat untuk memberikan sanksi tegas kepada Rusia. Ia menekankan perlunya tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan dukungan. "Laju serangan udara Rusia membutuhkan keputusan yang cepat dan terukur sekarang juga melalui sanksi," serunya. Zelensky secara khusus meminta sanksi bagi mereka yang membantu produksi drone dan memanfaatkan keuntungan dari ekspor minyak Rusia.
Serangan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada Rabu (9/7), Rusia juga melancarkan serangan besar-besaran yang menargetkan wilayah barat Ukraina, dikatakan sebagai serangan terbesar sejak invasi pada 2022. Angkatan Udara Ukraina melaporkan 741 senjata udara diluncurkan saat itu, terdiri dari 728 drone Shahed dan 13 rudal. Wilayah Volyn dan kota Lutsk menjadi sasaran utama. Peristiwa ini semakin memperburuk situasi konflik di Ukraina dan menimbulkan kekhawatiran internasional yang semakin meningkat.