Informasi yang dihimpun Internationalmedia.co.id dari berbagai sumber menyebutkan, serangan drone skala besar telah mengguncang wilayah Rusia. Serangan yang diklaim dilakukan oleh Ukraina ini menyasar sejumlah target penting, termasuk fasilitas militer dan infrastruktur vital. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang eskalasi konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional.
Menurut laporan, serangan drone tersebut menghantam sebuah lapangan terbang militer di Primorsko-Akhtarsk, wilayah barat daya Rusia. Badan Keamanan Ukraina (SBU) mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang mengakibatkan kebakaran hebat di area penyimpanan drone Shahed buatan Iran. Drone Shahed diketahui menjadi andalan Rusia dalam serangannya ke Ukraina.

Tidak hanya itu, sebuah perusahaan bernama Elektropribor di wilayah Penza, Rusia selatan, juga menjadi sasaran serangan. Perusahaan ini disebut-sebut terkait erat dengan industri militer Rusia, memproduksi berbagai peralatan militer seperti perangkat penerbangan, kendaraan lapis baja, dan kapal. Gubernur wilayah Penza melaporkan korban jiwa akibat serangan ini.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan telah berhasil mencegat 112 drone Ukraina dalam kurun waktu hampir sembilan jam. Namun, serangan tersebut tetap menimbulkan kerusakan dan korban jiwa di beberapa wilayah, termasuk Rostov dan Samara. Laporan menyebutkan jatuhnya puing-puing drone menyebabkan kebakaran dan korban jiwa di pemukiman warga.
Presiden Rusia Vladimir Putin, yang hingga kini menolak seruan gencatan senjata, menyatakan keinginannya untuk perdamaian. Namun, tuntutannya untuk mengakhiri konflik tetap keras, termasuk tuntutan agar Ukraina menyerahkan wilayahnya dan mengurungkan niat bergabung dengan NATO. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali menyerukan pertemuan langsung dengan Putin untuk mengakhiri perang, mengatakan hanya Putin yang dapat menghentikan konflik.
