Invansi besar-besaran ke Gaza dimulai. Internationalmedia.co.id melaporkan, militer Israel mengklaim telah menguasai pinggiran Kota Gaza sebagai bagian dari operasi untuk mengambil alih kota tersebut. Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, menyatakan bahwa pasukan Israel telah memulai tahap awal serangan dan kini menguasai wilayah pinggiran. Pernyataan ini disampaikan melalui kantor berita Reuters pada Kamis (21/8/2025).
Defrin menggambarkan Hamas sebagai pasukan gerilya yang "babak belur" dan menegaskan bahwa serangan akan diperluas ke seluruh Kota Gaza. Ia menyebut Gaza sebagai "benteng teror" bagi Hamas. Sebelumnya, Israel telah mengerahkan 60.000 pasukan cadangan pada Rabu (20/8) sebagai persiapan operasi besar-besaran ini. Langkah ini diambil meskipun ada proposal gencatan senjata yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Israel.

Hamas, melalui pernyataan di Telegram, menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghambat kesepakatan gencatan senjata demi melanjutkan "perang brutal" terhadap warga sipil Gaza. Mereka menyatakan bahwa penolakan Netanyahu terhadap proposal mediator membuktikan niat buruknya untuk mencapai perdamaian.
Rencana penaklukan Kota Gaza telah disetujui oleh Kabinet Keamanan Israel yang dipimpin Netanyahu. Rencana ini bertujuan untuk memperluas kampanye militer di Gaza dan merebut Kota Gaza, yang menjadi lokasi pertempuran sengit antara pasukan Israel dan Hamas pada awal konflik. Saat ini, Israel menguasai sekitar 75% wilayah Jalur Gaza. Meskipun mediator Qatar menyatakan optimisme atas proposal gencatan senjata terbaru, Israel tetap bersikeras pada pembebasan semua sandera sebagai prasyarat perjanjian damai. Situasi di Gaza tetap tegang dan perkembangan selanjutnya masih dinantikan.

