Serangan besar-besaran Rusia kembali mengguncang Ukraina. Internationalmedia.co.id melaporkan, dini hari Kamis (21/8), ratusan drone dan rudal membombardir wilayah barat Ukraina, serangan terbesar Moskow sejak pertengahan Juli. Tragedi ini menewaskan sedikitnya satu warga sipil dan melukai belasan lainnya.
Angkatan Udara Ukraina mencatat, total 614 drone dan rudal diluncurkan Rusia. Rinciannya, 574 drone dan 40 rudal. Sistem pertahanan udara Ukraina berhasil mencegat 546 drone dan 31 rudal. Serangan terkonsentrasi di 11 lokasi, dengan puing-puing jatuh di tiga lokasi berbeda.

Kota Lviv menjadi salah satu yang paling terpukul. Maksym Kozytskyi, kepala administrasi militer Lviv, melaporkan satu korban jiwa dan dua luka-luka akibat serangan gabungan drone dan rudal jelajah. Puluhan bangunan permukiman mengalami kerusakan. Di Mukachevo, dekat perbatasan Hungaria dan Slovakia, 12 orang lainnya terluka dan beberapa dirawat di rumah sakit.
Serangan ini terjadi di tengah upaya Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Perdana Menteri Ukraina, Yulia Svyrydenko, menilai serangan ini sebagai bukti bahwa Rusia tidak serius dalam upaya perdamaian. Ia menyebut Ukraina menjadi sasaran serangan gabungan skala besar, termasuk drone, rudal jelajah, dan bahkan rudal balistik serta hipersonik. Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, menambahkan serangan tersebut sebagai tindakan teror terhadap rakyat Ukraina tanpa logika atau kebutuhan militer. Peristiwa ini sekali lagi menyoroti eskalasi konflik dan dampaknya terhadap warga sipil.
