Serangan terbaru Israel di Jalur Gaza kembali menimbulkan tragedi. Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa serangan terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis telah menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk lima jurnalis dari media ternama seperti Reuters, Associated Press, dan Al Jazeera. Peristiwa ini menambah daftar panjang kejahatan perang yang dilakukan Israel di wilayah tersebut.
Insiden memilukan ini terjadi dalam dua gelombang serangan. Gelombang pertama menewaskan juru kamera Reuters, Hussam al-Masri, di dekat lokasi siaran langsung timnya. Gelombang kedua, yang menyasar petugas penyelamat dan medis yang tengah memberikan pertolongan, juga menelan korban jiwa, termasuk jurnalis Mariam Abu Dagga (Associated Press), Mohammed Salama (Al Jazeera), dan Moaz Abu Taha (jurnalis lepas). Fotografer Hatem Khaled, kontraktor Reuters, turut menjadi korban luka.

Pihak Israel, melalui kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyatakan penyesalan atas apa yang disebut sebagai "kecelakaan tragis" dan mengklaim tidak menargetkan jurnalis. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengaku telah menyerang area Rumah Sakit Nasser dan telah memerintahkan penyelidikan internal. Namun, pernyataan IDF yang menyatakan tidak menargetkan jurnalis menuai kecaman internasional.
Kecaman keras datang dari berbagai pihak. Kementerian Luar Negeri Saudi menyerukan komunitas internasional untuk mengakhiri kejahatan Israel dan memastikan perlindungan bagi pekerja medis dan jurnalis. Sementara itu, China mengecam keras serangan tersebut dan menyerukan penghentian operasi militer Israel di Gaza, mendesak gencatan senjata segera untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih besar.
Rumah Sakit Nasser sendiri telah berulang kali menjadi sasaran serangan selama 22 bulan konflik di Gaza, mengalami kekurangan pasokan dan staf medis yang kritis. Tragedi ini sekali lagi menyoroti situasi kemanusiaan yang mengerikan di Jalur Gaza dan semakin menguatkan kecaman internasional terhadap tindakan Israel. Reuters sendiri telah meminta bantuan dari pihak berwenang Gaza dan Israel untuk membantu jurnalisnya yang terluka.

