Internationalmedia.co.id – News – Kota Serang – Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, baru-baru ini melontarkan gagasan visioner terkait pengembangan potensi budaya di Banten. Ia secara tegas mendorong pelestarian serta pengembangan pencak silat Tjimande dan seni debus, melihat keduanya bukan hanya sebagai warisan luhur, melainkan juga sebagai mesin ekonomi baru yang berpotensi menyumbang devisa signifikan bagi daerah.
Dalam pandangannya, kekayaan budaya ini, jika dikelola secara profesional, dapat melampaui sekadar tradisi lokal. "Ini adalah kekuatan besar yang, jika kita kelola dengan baik, tidak hanya akan menjadi kebanggaan budaya semata. Namun, ini juga bisa kita kembangkan untuk diperkenalkan secara luas, bahkan menjadi salah satu sumber devisa penting bagi seluruh tingkatan wilayah, mulai dari provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa-desa di Banten," jelas Kapolri, menggarisbawahi potensi ekonomi yang tersembunyi.

Pesan penting ini disampaikan Kapolri saat menghadiri Peresmian Balai Latihan Seni Silat sekaligus perayaan Milad ke-3 Pesanggrahan Tjimande Banten Indonesia (PTBI) di Kota Serang.
Listyo Sigit menekankan bahwa keunikan pencak silat Tjimande dan debus adalah identitas tak ternilai Banten yang harus terus dijaga dan dibina. Tanggung jawab pelestarian dan pengembangannya, menurutnya, berada di pundak seluruh perguruan, pimpinan, serta masyarakat Banten secara kolektif. Ia mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam membangun dan memajukan potensi budaya ini melalui pembinaan yang berkelanjutan, memastikan seni ini tetap hidup dan diminati generasi muda.
Untuk merealisasikan ambisi tersebut, Kapolri juga mendorong pembangunan padepokan atau balai latihan serupa di setiap kabupaten di Banten. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi pusat pembinaan pencak silat, wadah penjaga kearifan lokal, serta tempat pengembangan beragam seni budaya daerah lainnya. "Saya berharap agar di setiap kabupaten dapat didirikan fasilitas semacam ini, sehingga seluruh kekayaan budaya Banten dapat terpelihara, dilatih, dan terus dilestarikan," tegasnya.
Kapolri menjelaskan bahwa pesanggrahan tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat latihan bela diri. Ia membayangkan pesanggrahan sebagai ruang interaktif untuk belajar, berdiskusi, dan menjadi titik kumpul masyarakat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan, didasari semangat kebersamaan. Balai Latihan Seni Silat PTBI, khususnya, diharapkan terbuka lebar bagi seluruh perguruan silat dan masyarakat umum, menjadikannya pusat kegiatan seni, budaya, dan penguat tali silaturahmi antarwarga.
Lebih lanjut, Listyo Sigit mengingatkan bahwa pengembangan kebudayaan harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pencak silat. Para pesilat dan jawara diharapkan senantiasa menjunjung tinggi semangat membela kebenaran, melindungi yang lemah, menjaga kekompakan, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Melalui pendekatan komprehensif ini, Kapolri optimis pencak silat Tjimande dan debus akan semakin mengukuhkan identitas budaya Banten, sekaligus membuka gerbang kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan daerah.
