Washington DC – Senator Amerika Serikat Lindsey Graham menyerukan tindakan militer tegas terhadap Hamas dan Hizbullah, jika kedua kelompok yang didukung Iran itu menolak untuk melucuti persenjataan mereka. Seruan ini, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News mengutip AFP dan Al Arabiya, disampaikan Graham saat kunjungannya ke Israel pada Minggu (21/12) waktu setempat.
Senator Partai Republik dari South Carolina, yang dikenal sebagai sekutu setia mantan Presiden Donald Trump, menuding Hamas sedang mengkonsolidasikan kekuasaan di Jalur Gaza. Graham menekankan pentingnya penyusunan rencana segera dan pemberian batas waktu bagi Hamas untuk mencapai tujuan pelucutan senjata. "Dan jika tidak, saya akan mendorong Presiden Trump untuk mengerahkan Israel untuk menghabisi Hamas," tegas Graham dalam konferensi pers. Ia menambahkan, "Ini adalah perang yang panjang dan brutal, tetapi Anda tidak akan berhasil di mana pun di wilayah ini sampai Anda berhasil menyingkirkan Hamas dari masa depan Hamas dan melucuti senjata mereka."

Pernyataan keras ini muncul di tengah gencatan senjata Gaza yang rapuh, yang dimulai pada Oktober lalu dan berhasil menghentikan perang dua tahun antara Israel dan Hamas. Meskipun demikian, kedua belah pihak saling menuding adanya pelanggaran. Graham memperingatkan bahwa fase kedua gencatan senjata Gaza akan gagal jika Hamas tetap bersenjata, mengklaim bahwa kelompok itu "mengkonsolidasikan kekuasaan di Gaza" sekitar 90 hari setelah gencatan senjata.
Tidak hanya Hamas, Graham juga menyerukan keterlibatan militer terhadap Hizbullah. "Jika Hizbullah menolak untuk menyerahkan senjata berat mereka, di masa mendatang kita harus terlibat dalam operasi militer bekerja sama dengan Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat, di mana kita akan terbang bersama Israel… untuk menumpas Hizbullah," jelasnya.
Gencatan senjata terpisah antara Israel dan Hizbullah, yang berbasis di Lebanon, juga telah berlaku sejak November 2024 setelah lebih dari setahun permusuhan. Namun, Tel Aviv terus melancarkan serangan di wilayah Lebanon, yang diklaim menargetkan posisi Hizbullah. Israel telah menjadikan pelucutan persenjataan kedua kelompok militan tersebut sebagai syarat utama untuk perdamaian yang bertahan lama.
Meskipun pemerintah Lebanon telah memulai upaya pelucutan senjata Hizbullah, dimulai dari wilayah selatan negara tersebut, Israel mempertanyakan efektivitas militer Lebanon. Hizbullah sendiri berulang kali menolak untuk meletakkan senjata. Sementara itu, para mediator gencatan senjata Gaza—yaitu Amerika Serikat, Qatar, Mesir, dan Turki—terus mendesak Israel dan Hamas untuk menegakkan gencatan senjata serta mengimplementasikan fase kedua yang mencakup demiliterisasi wilayah tersebut, termasuk pelucutan senjata Hamas.
