Internationalmedia.co.id melaporkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membuat pernyataan mengejutkan terkait rencana pendudukan Jalur Gaza. Bukan untuk menguasai, klaimnya, melainkan untuk membebaskan warga sipil dari cengkeraman Hamas. Dalam konferensi pers yang dikutip AFP Minggu (10/8/2025), Netanyahu menegaskan tujuannya bukanlah pendudukan, melainkan pembentukan pemerintahan sipil di Gaza yang independen dari Hamas maupun Otoritas Palestina.
Netanyahu juga berjanji akan menjamin akses bantuan kemanusiaan dengan membuka koridor aman. "Kami akan menetapkan koridor-koridor aman untuk perjalanan dan distribusi bantuan di Jalur Gaza," tegasnya. Pernyataan ini muncul di tengah agresi militer Israel di Gaza, di mana kabinet keamanan Israel telah menyetujui rencana pengambilalihan kendali penuh wilayah tersebut.

Langkah ini, menurut pernyataan kantor Netanyahu yang dikutip AFP Jumat (8/8), bertujuan untuk melumpuhkan Hamas. Pasukan Israel, lanjut pernyataan tersebut, akan bersiap mengambil alih Kota Gaza sembari menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di luar zona konflik. Kabinet keamanan Israel telah merumuskan lima prinsip utama untuk mengakhiri konflik: pelucutan senjata Hamas; pengembalian semua sandera; demiliterisasi Gaza; kontrol keamanan Israel atas Gaza; dan pembentukan pemerintahan sipil alternatif yang bukan Hamas atau Otoritas Palestina.
Namun, rencana kontroversial ini langsung menuai kecaman internasional. Berbagai negara, termasuk Indonesia, Inggris, China, dan Turki, telah menyatakan penolakan dan kecaman keras terhadap rencana tersebut. Reaksi internasional terhadap langkah berani Netanyahu ini masih terus berkembang dan patut dipantau.

