Internationalmedia.co.id melaporkan gelombang kecaman internasional membanjiri rencana Israel untuk memperluas operasi militer dan mengambil alih Kota Gaza. Rencana ini, yang disetujui kabinet Israel untuk melawan Hamas, menimbulkan kekhawatiran akan semakin memburuknya situasi kemanusiaan di Palestina.
Pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di media sosial X yang menyatakan tidak akan menduduki, melainkan "membebaskan Gaza dari Hamas", dianggap sebagai upaya pembenaran atas rencana kontroversial tersebut. Netanyahu menambahkan bahwa demiliterisasi Gaza dan pembentukan pemerintahan sipil baru akan membebaskan sandera dan mencegah ancaman di masa depan. Namun, lima prinsip yang diadopsi kabinet Israel—pencurian senjata Hamas, pemulangan sandera, demiliterisasi Gaza, kontrol keamanan Israel atas Gaza, dan pemerintahan sipil alternatif—justru memicu kecaman luas.

Meskipun belum ada jadwal pasti operasi militer, laporan media Israel menyebutkan militer tidak akan langsung bergerak ke Kota Gaza dan penduduk akan diminta mengungsi terlebih dahulu. Kecaman datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Inggris, China, Turki, Arab Saudi, Jerman, dan kini diperkuat oleh Rusia. Bahkan, demonstrasi besar-besaran digelar warga Israel sendiri di Tel Aviv, menuntut diakhiri perang dan pembebasan sandera.
Rusia, melalui Kementerian Luar Negerinya, dengan tegas menolak rencana tersebut dan memperingatkan potensi bencana kemanusiaan, termasuk pengusiran paksa seluruh penduduk Gaza. Rusia menekankan pentingnya gencatan senjata dan memperingatkan konsekuensi negatif bagi Timur Tengah jika rencana Israel tersebut dilanjutkan.
Di Tel Aviv, ribuan, bahkan menurut beberapa laporan hingga ratusan ribu, warga turun ke jalan memprotes rencana tersebut. Mereka menuntut diakhirinya konflik dan pembebasan sandera, dengan beberapa orator bahkan mengancam akan mengejar Netanyahu jika sandera tewas akibat penyerbuan.
Arab Saudi turut mengecam keras rencana tersebut, menyebutnya sebagai upaya kelaparan dan pembersihan etnis terhadap warga Palestina. Jerman, sebagai bentuk protes, mengumumkan penghentian sementara ekspor senjata ke Israel hingga pemberitahuan lebih lanjut. Situasi ini semakin menegangkan dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar di kawasan.

