Internationalmedia.co.id memberitakan kabar mengejutkan terkait rencana relokasi warga Gaza. Sudan Selatan secara tegas membantah terlibat dalam negosiasi dengan Israel mengenai rencana kontroversial tersebut. Bantahan keras ini disampaikan Kementerian Luar Negeri Sudan Selatan pada Rabu (13/8) lalu, menanggapi laporan Associated Press yang menyebutkan adanya pembicaraan rahasia antara kedua negara.
Pernyataan resmi Sudan Selatan menyebut klaim tersebut "tidak berdasar dan tidak mencerminkan posisi atau kebijakan resmi pemerintah". Al Jazeera juga memberitakan hal serupa pada Kamis (14/8). Rencana relokasi warga Gaza ke Sudan Selatan, yang diusulkan oleh beberapa pejabat Israel, menuai kecaman keras dari kelompok HAM. Mereka menilai rencana tersebut sebagai pengusiran paksa dan pelanggaran hukum internasional.

Kekhawatiran semakin meningkat karena warga Palestina dikhawatirkan tak akan pernah diizinkan kembali ke Gaza. Ada pula kekhawatiran rencana ini akan membuka jalan bagi Israel untuk mencaplok wilayah Gaza dan membangun kembali permukiman Israel di sana, seperti yang disuarakan beberapa menteri sayap kanan pemerintah Israel.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyatakan keinginan untuk mewujudkan "migrasi sukarela" bagi sebagian besar penduduk Gaza. Hal ini sejalan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya. Menurut Channel 12, selain Sudan Selatan, Israel juga dilaporkan tengah bernegosiasi dengan empat negara lain, termasuk Indonesia, Somaliland, Uganda, dan Libya.
Seorang sumber diplomatik Israel kepada Channel 12, yang kemudian dikutip The Times of Israel, menyebutkan Indonesia dan Somaliland menunjukkan keterbukaan terhadap gagasan tersebut. Namun, hingga kini belum ada keputusan final. Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia, dikabarkan berharap mendapatkan pengakuan internasional melalui kesepakatan ini.
Netanyahu sendiri, dalam wawancara dengan i24News, mendukung emigrasi massal warga Gaza. Ia menyatakan Israel berkomunikasi dengan "beberapa negara" untuk menampung warga sipil yang mengungsi dari Gaza. Namun, ia enggan merinci negara-negara tersebut. Misteri di balik rencana relokasi ini pun semakin mengundang pertanyaan.

