Kunjungan mendadak tiga pemimpin Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, ke Moldova pada Rabu (27/8) telah memicu berbagai spekulasi. Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa kunjungan ini terjadi menjelang pemilu parlemen Moldova bulan depan, yang dibayangi kekhawatiran akan campur tangan Rusia.
Ketiga pemimpin tersebut bertemu Presiden Moldova Maia Sandu dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Moldova ke-34. Namun, kunjungan ini lebih dari sekadar perayaan. Menurut pernyataan kantor kepresidenan Moldova, kunjungan ini merupakan bentuk dukungan nyata dari Eropa terhadap Moldova, mengingat meningkatnya aktivitas campur tangan Rusia menjelang pemilu yang krusial ini.

Moldova, negara pro-Uni Eropa yang berbatasan langsung dengan Ukraina, telah berulang kali dituduh mengalami upaya destabilisasi oleh Rusia. Presiden Sandu sendiri, yang vokal mengkritik Rusia sejak invasi ke Ukraina tahun 2022, telah memimpin Moldova dalam proses negosiasi keanggotaan Uni Eropa yang dimulai Juni 2024. Tuduhan terbaru Sandu tentang rencana campur tangan Rusia dalam pemilu September semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.
Seorang penasihat kepresidenan Prancis menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan menegaskan kembali dukungan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Moldova, serta mendukung "lintasan Eropa" yang dipilih negara tersebut. Penasihat tersebut secara gamblang menyatakan ancaman nyata yang dihadapi Moldova dari intervensi dan campur tangan Rusia. Kunjungan ini pun menjadi sinyal kuat bagi Moskow.
Setelah pertemuan dan pernyataan bersama dengan Presiden Sandu, ketiga pemimpin Eropa akan menghadiri perayaan hari kemerdekaan di Lapangan Kemerdekaan Chisinau, yang akan dimeriahkan dengan konser malam hari. Kunjungan ini jelas menunjukkan komitmen Eropa terhadap Moldova di tengah situasi geopolitik yang kompleks dan penuh tantangan.

