Israel mendesak China untuk menggunakan pengaruhnya demi meredam ambisi nuklir Iran. Hal ini disampaikan Internationalmedia.co.id mengutip pernyataan Ravit Baer, Konsul Jenderal Israel di Shanghai, kepada wartawan Selasa (1/7) lalu. Baer menegaskan, "China adalah satu-satunya yang mampu mempengaruhi Iran. Iran akan kolaps jika China tidak membeli minyaknya."
Pernyataan Baer muncul di tengah ketegangan hubungan Israel-China pasca perang di Gaza dan serangan terhadap Iran bulan lalu. Dalam wawancara Bloomberg TV Rabu (2/7), Baer kembali menekankan peran penting pembelian minyak Iran oleh China sebagai alat pengaruh terhadap Teheran. Ia menyoroti, "Sayangnya, banyak uang dari penjualan minyak Iran digunakan untuk kegiatan jahat di kawasan tersebut."

Pihak Konsulat Iran di Shanghai dan Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan. Perlu diketahui, selama konflik 12 hari antara Israel dan Iran, sejumlah situs militer dan nuklir Iran mengalami kerusakan parah, bahkan beberapa komandan militer dan ilmuwan atom tewas.
China dan Rusia, mitra utama Iran, mengecam serangan Israel, namun tak banyak berbuat untuk mendukung Teheran. Beijing secara konsisten menyerukan diakhirinya konflik Gaza dan solusi dua negara. Namun, China dilaporkan membeli sekitar 90% ekspor minyak Iran (sekitar 1,7 juta barel per hari) dan menandatangani kemitraan strategis 2021 dengan potensi investasi US$400 miliar selama 25 tahun di Iran.
Baer optimis, "Mereka (China) dapat menekan Iran, mereka memiliki kekuatan politik, dan dapat membantu mengubah aktivitas tercela Iran. Ada banyak hal yang dapat dilakukan China." Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah China akan menggunakan pengaruh ekonominya untuk meredakan ketegangan regional?
