Internationalmedia.co.id – News melaporkan sebuah operasi gabungan berskala besar berhasil menggagalkan upaya peredaran narkotika jenis sabu cair seberat 2,6 ton di perairan Indonesia. Penindakan ini melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Jenderal Bea Cukai, serta Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau, yang menyasar sebuah kapal berbendera Tanzania yang diduga membawa barang haram tersebut. Kapal itu diamankan di perairan Tanjung Parit, Bengkalis, Riau, menandai keberhasilan signifikan dalam upaya pemberantasan narkoba.
Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ahmad Sahroni segera menyampaikan apresiasinya atas kinerja luar biasa tim gabungan tersebut. Namun, Sahroni menegaskan bahwa keberhasilan ini hanyalah langkah awal dan meminta penegak hukum untuk tidak berhenti pada penangkapan kapal serta awaknya. "Operasi ini jangan berhenti di kapal dan para awaknya saja, itu tidak cukup," ujar Sahroni dalam keterangannya yang diterima Internationalmedia.co.id akhir pekan lalu.

Ia mendesak agar penegak hukum mengejar siapa saja yang terlibat dalam jaringan ini, mulai dari pemesan, penadah, hingga bandar besar di dalam negeri yang berencana mendistribusikan jutaan ton barang haram tersebut. Politisi dari Fraksi Partai NasDem ini juga mendesak agar aliran dana terkait kejahatan ini ditelusuri dan para pelakunya dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) demi pemberantasan yang total.
Lebih lanjut, Sahroni turut menyoroti pentingnya pengawasan ketat di wilayah perairan Indonesia. Ia mendesak BNN dan Polair untuk tidak lengah sedikit pun, mengingat maraknya penyelundupan narkoba dan barang ilegal lainnya yang masuk melalui jalur laut. "Laut kita harus terus di-sweeping dan diawasi secara intens, jangan sampai barang haram lolos masuk dan akhirnya merusak generasi muda kita," tegasnya.
Sementara itu, Kepala BNN RI Komjen Suyudi Ario Seto di Batam mengungkapkan fakta menarik terkait penindakan ini. Ia menjelaskan bahwa pengungkapan 2,6 ton methamphetamine cair ini memiliki kaitan erat dengan jaringan sebelumnya yang berhasil diungkap BNN, yakni penyelundupan 1,3 ton ketamin. Suyudi menegaskan bahwa kaitan tersebut bukan sekadar kebetulan karena para pelaku berasal dari Myanmar, melainkan memang ada "irisan dan kaitan" yang signifikan antar kedua kasus tersebut.
Saat ini, BNN terus melakukan pengembangan secara menyeluruh untuk mengungkap jaringan yang lebih besar dan menelusuri akar-akar kejahatan narkotika ini hingga tuntas.
