Internationalmedia.co.id memberitakan kemarahan Palestina atas persetujuan Israel untuk membangun permukiman Yahudi kontroversial di Tepi Barat. Proyek E1, yang mencakup pembangunan ribuan unit rumah di area strategis, dinilai sebagai pukulan telak bagi solusi dua negara.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras langkah tersebut. Dalam pernyataan resminya, kementerian tersebut menyatakan bahwa proyek E1 akan menghancurkan peluang terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan utuh. Mereka menggambarkan proyek ini sebagai upaya untuk memecah belah Tepi Barat menjadi wilayah-wilayah terisolasi, membatasi pergerakan penduduk Palestina, dan menciptakan kondisi mirip penjara.

Proyek ambisius ini, yang meliputi pembangunan 3.401 unit rumah di Ma’ale Adumim dan 3.515 unit rumah di sekitarnya, telah lama menjadi rencana Israel. Selama bertahun-tahun, proyek ini terhambat karena mendapat penolakan dari komunitas internasional yang melihatnya sebagai ancaman terhadap solusi dua negara. Namun, persetujuan akhir dari komisi perencanaan Kementerian Pertahanan Israel pekan lalu membuka jalan bagi realisasi proyek tersebut.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menyambut persetujuan ini dengan antusias, bahkan menyebutnya sebagai langkah nyata penghapusan negara Palestina. Pernyataan Smotrich ini semakin memantik kemarahan Palestina dan kecaman internasional.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengecam proyek ini dan mendesak Israel untuk menghentikan semua aktivitas permukiman. Ia menekankan bahwa proyek tersebut merupakan ancaman serius bagi solusi dua negara. Perlu diingat bahwa semua permukiman Israel di Tepi Barat dianggap ilegal menurut hukum internasional. Konflik ini kembali menyoroti kebuntuan perdamaian yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina.

