Prancis geram. Internationalmedia.co.id melaporkan, negara tersebut memanggil Duta Besar Amerika Serikat (AS) di Paris, Charles Kushner, untuk memprotes keras tuduhan kurangnya upaya memerangi antisemitisme. Tuduhan tersebut dilontarkan Kushner dalam surat kepada Presiden Emmanuel Macron.
Kementerian Luar Negeri Prancis, dalam pernyataan resmi Senin (25/8), menyebut tuduhan Kushner "tidak dapat diterima". Mereka menegaskan Prancis telah "berkomitmen penuh" dan "sepenuhnya melakukan mobilisasi" untuk melawan peningkatan tindakan antisemitisme pasca serangan Hamas Oktober 2023.

Pernyataan kementerian tersebut juga menyatakan bahwa tuduhan Kushner "bertentangan dengan hukum internasional" dan "tidak mencerminkan kualitas kemitraan transatlantik antara Prancis dan Amerika Serikat". Belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri AS.
Dalam suratnya, Kushner menuding Prancis "kurang bertindak" dalam melawan antisemitisme yang menurutnya "meledak" sejak serangan Hamas. Ia menggambarkan situasi di Prancis dengan gambaran serangan terhadap warga Yahudi, perusakan sinagoge dan sekolah, serta vandalisme pada bisnis milik Yahudi. Tuduhan ini serupa dengan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya menuduh Macron memicu antisemitisme. Elysee Palace sendiri telah mengecam tuduhan Netanyahu sebagai "keji" dan "keliru".
Pemanggilan Duta Besar AS ini merupakan langkah diplomatik resmi yang menunjukkan ketidakpuasan Prancis atas tuduhan tersebut. Peristiwa ini menambah ketegangan dalam hubungan Prancis-AS, terutama dalam konteks penanganan antisemitisme pasca konflik Israel-Hamas.

