Jakarta – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih menjadi fokus utama pemerintah. Presiden Prabowo Subianto secara langsung turun tangan memberikan arahan strategis terkait penanganan bencana asap ini. Menurut laporan Internationalmedia.co.id – News pada Minggu (23/8/2026), Presiden Prabowo bertolak langsung ke Kalimantan pada Sabtu (22/8) untuk meninjau penanganan karhutla.
Setibanya di Posko Satgas Udara, Pangkalan Udara Supadio, Kalimantan Barat, Prabowo segera memimpin rapat terbatas (ratas) untuk mengkoordinasikan penanganan karhutla. "Baik terima kasih saudara-saudara sekalian. Saya datang untuk melihat langsung kondisi riil di lapangan," kata Prabowo membuka rapat.

Ia kemudian meminta laporan situasi terkini dari para pejabat terkait. "Sekarang saya minta siapa yang bisa kasih saya presentasi tentang situasi?" ujarnya. Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjen Purnawirawan Asrianus Bulo, lantas memberikan laporan. Berdasarkan data satelit 24 jam terakhir, teridentifikasi 198 titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat 3.100 titik api dengan tingkat kepercayaan menengah dan 406 titik api dengan tingkat kepercayaan rendah.
Prabowo Meninjau Langsung Titik Karhutla
Usai memimpin ratas, Prabowo didampingi sejumlah menteri dan pejabat tinggi, tak ragu turun langsung ke lokasi karhutla di Jalan A Yani III, Desa Limbung, Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Mengenakan baju safari krem dan topi biru dongker, Prabowo terlihat tidak mengenakan masker sepanjang peninjauan berlangsung.
Turut mendampingi Presiden dalam peninjauan ini antara lain Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Mereka juga terlihat tanpa masker. Di area peninjauan, selimut asap tipis tampak menyelimuti, membatasi jarak pandang ke bagian belakang lokasi. Akses menuju lokasi terlihat berupa jalur tanah gambut di atas parit kering.
Memastikan Arahan Diterapkan Efektif
Prabowo berjalan menyusuri lahan yang terbakar, mengamati dari dekat kondisi area terdampak serta proses penanganan yang tengah dilakukan petugas gabungan. Dalam kesempatan itu, ia turut memberikan arahan kepada para menteri dan jajaran terkait yang mendampinginya. Prabowo menekankan pentingnya penanganan karhutla dilakukan secara cepat dan terkoordinasi agar api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke wilayah lainnya.
Ia juga menghampiri dan menyapa para petugas yang tengah bertugas melakukan proses pemadaman. Tidak hanya berinteraksi dengan para petugas, Prabowo turut menyapa sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi. Kunjungan langsung ini, menurut sumber Internationalmedia.co.id, menunjukkan komitmen Prabowo untuk memastikan setiap arahan dan strategi penanganan karhutla dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan.
Penanganan Cepat dan Optimal, Sanksi Tegas Menanti Pelanggar
Seskab Teddy Indra Wijaya mengungkapkan instruksi Presiden Prabowo Subianto agar kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) ditangani secepat dan seoptimal mungkin. "Presiden menginstruksikan agar penanganan karhutla dilakukan secepat dan seoptimal mungkin demi memulihkan aktivitas normal masyarakat," kata Teddy dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/8).
Teddy menambahkan, "Presiden juga meminta setiap pelanggaran hukum yang ditemukan ditindak secara tegas sesuai ketentuan yang berlaku." Prabowo juga menekankan agar pemerintah daerah tegas dalam menerapkan aturan di wilayahnya, sekaligus memperkuat langkah-langkah pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak terus berulang.
Pengerahan Pasukan dan Alat Berat
Sebagai langkah konkret untuk mengatasi karhutla secara cepat, Teddy membeberkan sejumlah penanganan yang disiapkan. Salah satunya adalah penambahan tiga batalyon TNI, setara 1.500 personel, dari luar Kalimantan yang akan didatangkan secara bertahap mulai hari itu hingga Minggu pagi.
Pemerintah juga mengerahkan personel aparat di darat untuk memadamkan titik-titik api, serta menambah enam helikopter water bombing yang dijadwalkan tiba sore itu. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan diperbanyak, dengan mempertimbangkan potensi hujan yang diperkirakan terjadi di Kalimantan Barat. "Memperbanyak dan menambah alat pompapinasi dan bor air khususnya pada lahan-lahan gambut sehingga meredam titik panas bawah tanah," pungkas Teddy.
