Internationalmedia.co.id – News – Ketua STIK Lemdiklat Polri, Irjen Eko Rudi Sudarto, menegaskan bahwa polisi memiliki peran fundamental sebagai wasit atau penengah dalam mengawal jalannya demokrasi di Indonesia. Penegasan ini disampaikan Eko dalam acara wisuda dan Dies Natalis ke-80 STIK di Jakarta Selatan pada Rabu (17/6/2026) lalu, di mana ia menekankan pentingnya polisi yang cerdas dan netral dalam menjalankan tugasnya.
Menurut Irjen Eko, konsep polisi sebagai penjaga demokrasi telah dicanangkan sejak awal berdirinya Republik ini oleh para tokoh pendiri bangsa seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Jenderal Sudirman, Ki Hajar Dewantara, hingga Kapolri pertama RS Soekanto dan pendiri STIK Profesor Djoko Soetono. "Beliau-beliau melihat struktur polisi lah yang akan menjadi wasit bagi negeri ini," ujar Eko. Ia menambahkan, polisi harus memiliki kecerdasan dan integritas untuk mengawal peradaban serta menjaga martabat kemanusiaan.

Dalam rangka Dies Natalis ke-80 Polri, yang bertepatan dengan lahirnya Akademi Kepolisian di Mertoyudan, Magelang pada 17 Juni 1946, Eko berharap kinerja Polri semakin dirasakan masyarakat. Ia juga berkomitmen untuk terus berbenah, termasuk dengan mengembangkan Universitas Kepolisian guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia Polri.
Senada dengan Irjen Eko, Kalemdiklat Polri Komjen Ridwan Zulkarnain Panca Putra Simanjuntak menyatakan bahwa para perwira polisi yang baru diwisuda akan segera diterjunkan ke lapangan. Mereka akan mengemban pangkat dan jabatan sesuai dengan keahliannya untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh.
"Mereka harus turun ke lapangan untuk bisa menerapkan hasil ilmu yang diperoleh selama di lembaga ini," kata Panca, menjelaskan bahwa pengetahuan tersebut akan menjadi "pisau analisis" untuk menyelesaikan masalah sosial dan mewujudkan keamanan serta ketertiban masyarakat. internationalmedia.co.id melaporkan, Polri juga telah merancang sistem pembinaan karir yang komprehensif, memungkinkan para lulusan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3, serta menguji langsung teori yang didapat di lapangan.
Panca juga menyoroti tantangan terbesar yang akan dihadapi para sarjana kepolisian di era modern, yaitu kemajuan teknologi. Ia mengingatkan bahwa teknologi membawa dampak positif dan negatif, terutama terkait arus informasi yang tidak terkurasi. "Semua informasi masuk, dan tantangannya nanti mereka… akan berhadapan dengan kondisi di lapangan ketika rasa sosial masyarakat itu semakin menipis, dan persatuan masyarakat semakin menipis, dan pada akhirnya dapat menimbulkan konflik sosial," pungkasnya, menekankan pentingnya kemampuan analisis dan adaptasi di tengah derasnya arus informasi.
