Internationalmedia.co.id – News – Dunia penerbangan kembali digegerkan dengan penangkapan seorang pilot maskapai Malaysia Airlines, Mohd Saufi bin Othman (39), di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia diciduk petugas setelah kedapatan menyelundupkan narkotika. Yang lebih mencengangkan, penyelidikan mengungkap bahwa Saufi tak hanya diduga menjadi kurir ekstasi dan sabu, tetapi juga membawa "urine cadangan" yang disiapkan khusus untuk mengelabui tes narkoba mendadak.
Penangkapan pilot asal Malaysia ini bermula dari kecurigaan petugas Bea Cukai di Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soetta pada Selasa (28/7/2026), sekitar pukul 23.30 WIB. Saat itu, pemeriksaan X-ray pada bagasi penumpang menunjukkan adanya kejanggalan. Setelah koper yang mencurigakan tersebut diambil oleh pemiliknya, Mohd Saufi, petugas segera melakukan pemeriksaan mendalam di ruang pemeriksaan kantor Bea Cukai.

"Petugas melihat salah satu koper yang mencurigakan, setelah koper tersebut diambil oleh pemiliknya atas nama Mohd Saufi bin Othman yang merupakan pilot salah satu maskapai penerbangan asing," terang Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, pada Kamis (30/7).
Hasil pemeriksaan koper tersebut sungguh mengejutkan. Di dalamnya, petugas menemukan 14 bungkus besar dan 1 bungkus paket narkotika jenis sabu. Temuan besar ini segera diinformasikan kepada Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Saufi, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, mengaku diperintah oleh seseorang untuk membawa sabu tersebut ke Jakarta dengan imbalan fantastis, mencapai RM 50.000.
Positif Konsumsi Narkoba Saat Terbang
Penyelidikan lebih lanjut oleh kepolisian juga mencakup pemeriksaan urine terhadap Saufi. Hasilnya menunjukkan ia positif mengonsumsi tiga jenis narkoba sekaligus: sabu, ineks (ekstasi), dan kokain. "Dari hasil pemeriksaan tes urine, ternyata positif memakai sabu, ineks, dan kokain. Jadi, pada saat terbang itu sedang memakai," ungkap Kepala Bea Cukai Soekarno-Hatta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang, kepada wartawan pada Minggu (2/8/2026). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Saufi menerbangkan pesawat dalam kondisi terpengaruh zat adiktif.
Strategi Urine Cadangan untuk Mengelabui Petugas
Aspek lain yang tak kalah mengejutkan adalah ditemukannya botol berisi urine "bersih" di dalam tas tersangka. Humas Bea Cukai Soetta, Satria Yudhatama, menjelaskan bahwa botol tersebut merupakan antisipasi Saufi jika sewaktu-waktu dilakukan tes urine mendadak oleh maskapai atau otoritas penerbangan.
"Di dalam tas tersangka Pilot MSO ditemukan botol kecil berisi cairan kuning yang ternyata urine. Dari pengakuan botol tersebut berisi urine ‘bersih’ sebelum yang bersangkutan mengonsumsi narkotika. Jadi jika ada tes urine mendadak oleh maskapai atau otoritas penerbangan, akan digunakan yang di botol tersebut," jelas Satria. Beruntung, strategi licik ini belum sempat digunakan saat penangkapan ini terjadi.
Respons Malaysia Airlines
Menanggapi kasus yang melibatkan pilotnya, Malaysia Airlines menyatakan akan kooperatif sepenuhnya dengan otoritas Indonesia sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Dilansir dari kantor berita resmi Malaysia, Bernama, maskapai nasional Malaysia itu mengambil tuduhan ini dengan sangat serius dan sedang melakukan peninjauan internal.
"Malaysia Airlines ingin menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran dan saat ini sedang melakukan peninjauan internal atas masalah tersebut," demikian pernyataan maskapai tersebut, yang juga menekankan bahwa keselamatan, keamanan, dan integritas operasional tetap menjadi prioritas utama mereka. Kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang Indonesia.
