Sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah diambil oleh militer Israel dengan merilis peta wilayah Lebanon bagian selatan. Peta ini secara eksplisit menampilkan garis penempatan pasukan baru mereka, yang secara mengejutkan menempatkan puluhan desa di Lebanon di bawah kendali Israel. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa ini adalah kali pertama Tel Aviv secara terbuka mempublikasikan klaim kontrol semacam itu, memicu pertanyaan serius tentang kedaulatan wilayah.
Rilis peta kontroversial ini datang hanya beberapa hari setelah gencatan senjata 10 hari yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Israel dan kelompok Hizbullah mulai diberlakukan. Gencatan senjata tersebut bertujuan menghentikan pertempuran sengit yang telah berlangsung. Lebanon sendiri telah terseret dalam konflik Timur Tengah sejak awal Maret lalu, menyusul serangan Hizbullah yang didukung Iran terhadap wilayah Israel. Sejak saat itu, rentetan serangan udara balasan Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi, dengan pasukan darat Israel juga dikerahkan jauh ke selatan Lebanon, dekat perbatasan wilayahnya.

Peta versi Israel ini menampilkan garis penempatan yang membentang sejauh 5 hingga 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon dari area perbatasan, membentang dari timur ke barat. Israel menyatakan bahwa mereka berencana membentuk apa yang disebut sebagai "zona penyangga" di area tersebut. Tujuan yang dinyatakan adalah untuk melindungi kota-kota di Israel utara dari serangan Hizbullah, sebuah strategi yang sebelumnya telah diterapkan Israel di Suriah dan Jalur Gaza, di mana mereka kini menguasai lebih dari separuh wilayah kantong Palestina tersebut.
Dalam pernyataan yang menyertai penerbitan peta tersebut, militer Israel menegaskan bahwa "lima divisi, bersama dengan pasukan Angkatan Laut Israel, beroperasi secara bersamaan di wilayah selatan garis pertahanan depan di Lebanon bagian selatan untuk membongkar situs infrastruktur teror Hizbullah dan untuk mencegah ancaman langsung terhadap masyarakat di Israel bagian utara." Pasukan Israel juga dilaporkan telah menghancurkan desa-desa di Lebanon yang masuk ke area penempatan mereka, sebagai bagian dari operasi ini.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Minggu (19/4) lalu, juga memperingatkan bahwa rumah-rumah di perbatasan yang dimanfaatkan oleh Hizbullah akan dihancurkan. Ia menambahkan bahwa "setiap bangunan yang mengancam militer kita dan setiap jalan yang diduga (ditanam dengan) bahan peledak harus segera dihancurkan."
Hingga kini, belum ada komentar langsung dari para pejabat Lebanon maupun dari Hizbullah terkait rilis peta versi Israel ini. Kesepakatan gencatan senjata, yang diumumkan menyusul pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon pada 14 April lalu, dimaksudkan untuk membuka jalan bagi negosiasi AS dan Iran yang lebih luas. Namun, dengan pasukan Israel tetap mempertahankan posisinya jauh di dalam wilayah Lebanon bagian selatan, langkah ini diprediksi akan semakin memperkeruh situasi di kawasan yang sudah tegang, memunculkan pertanyaan serius tentang kedaulatan Lebanon dan prospek perdamaian jangka panjang.

