Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyerukan pentingnya melestarikan nilai-nilai fundamental seperti keimanan, ketulusan, kesetiaan, dan semangat pelayanan kepada sesama. Seruan ini disampaikan Bima Arya dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-187 Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jakarta. Menurut Internationalmedia.co.id – News, peringatan usia yang hampir dua abad ini bukan sekadar menandai ketahanan sebuah bangunan bersejarah, melainkan juga keberlanjutan ajaran dan filosofi yang diwariskan lintas generasi.
Dalam keterangannya pada Rabu (26/8), Bima Arya menegaskan bahwa setiap sudut GPIB Immanuel menyimpan pelajaran berharga. "Ada ajaran-ajaran keimanan yang menembus dan diwariskan lintas generasi, yang menyatukan kita semua di tempat ini hari ini," ungkap Bima. Ia menyoroti ukiran bunga teratai pada kubah gereja, yang melambangkan keindahan dan kesucian yang tetap terjaga meski tumbuh di lingkungan yang keruh. Filosofi ini, lanjut Bima, sangat relevan sebagai cerminan bagi manusia untuk senantiasa menghadirkan kebaikan di tengah berbagai tantangan dan dinamika kehidupan modern.

Lebih jauh, Bima Arya mengaitkan simbol teratai dengan esensi meninggalkan jejak dan karya yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Ia mengingatkan bahwa eksistensi manusia bersifat temporal dan fana, namun dedikasi serta karya yang dilandasi ketulusan akan memiliki dampak abadi. "Hidup kita mungkin sementara, namun bakti dan karya kita dapat kekal dan selamanya," tegasnya, menggarisbawahi pentingnya kontribusi yang melampaui batas waktu.
Selain filosofi teratai, Bima juga menyoroti nilai kesetiaan yang terpancar dari keberadaan orgel bersejarah di GPIB Immanuel. Alat musik yang telah berusia lebih dari 180 tahun ini masih berfungsi prima, membuktikan dedikasi pengurus dan jemaat dalam merawat warisan berharga. Harmoni antara orgel dan sistem akustik bangunan, menurut Bima, merefleksikan integrasi dan keselarasan yang telah terjalin antara gereja dengan lingkungan sekitarnya di Jakarta. "Ini adalah harmoni, sebuah nilai luhur yang menjadi simbol bagaimana gereja ini selama lebih dari 180 tahun menyatu dan berintegrasi dengan kota Jakarta," imbuhnya, berharap semangat ini terus lestari di tengah dinamika zaman.
Menyikapi laju perkembangan teknologi yang kian pesat, Bima Arya mengingatkan pentingnya menjaga agar kemajuan, termasuk kecerdasan buatan (AI), tetap selaras dengan nilai-nilai kebijaksanaan dan moralitas. Teknologi harus berfungsi untuk kemaslahatan umat manusia, bukan sebaliknya, mengikis fondasi etika. Oleh karena itu, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap partisipasi generasi muda dalam perayaan HUT GPIB Immanuel. Kehadiran mereka dianggap krusial untuk menjamin pewarisan nilai-nilai keimanan dan moral di tengah era digital yang semakin mendominasi.
Dalam kesempatan yang sama, Bima Arya turut menegaskan komitmen Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk mendorong pemerintah daerah (Pemda) agar mewujudkan pembangunan yang inklusif. Ia menekankan bahwa setiap kota harus dibangun untuk seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang. "Kemendagri senantiasa memastikan bahwa para kepala daerah di seluruh Indonesia tidak pernah mengabaikan warganya, serta menjamin bahwa pembangunan kota adalah untuk semua," paparnya.
Pemerintah, imbuhnya, memiliki kewajiban fundamental untuk menjamin kebebasan beribadah bagi setiap warga negara sesuai keyakinan masing-masing, sebagai pilar utama persatuan dan harmoni sosial di tengah kemajemukan Indonesia. Mengakhiri pernyataannya, Bima Arya berharap agar perjalanan panjang GPIB Immanuel tidak hanya berfokus pada pelestarian fisik bangunan bersejarah. Ia mendorong gereja untuk terus bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan iman, pelayanan yang berdampak, kasih yang tulus, dan wadah pembentukan karakter generasi muda. "Bukan sekadar bangunan yang terawat, namun marilah kita pastikan iman yang hidup, pelayanan yang kian meluas, dan kasih yang menjadi berkat bagi sesama, menjadi identitas sejati Gereja Immanuel Jakarta," tutupnya.
