Berita mengejutkan datang dari Internationalmedia.co.id. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan akan bertemu minggu depan di Alaska untuk membahas konflik Ukraina. Pertemuan ini memicu reaksi keras dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menegaskan penolakannya terhadap keputusan sepihak tanpa melibatkan negaranya.
Melalui media sosial, Zelensky dengan tegas menyatakan bahwa rakyat Ukraina tidak akan pernah menyerahkan wilayahnya kepada Rusia. Ia menekankan, "Keputusan apa pun yang berlawanan dengan kami, keputusan apa pun tanpa Ukraina, juga merupakan keputusan yang menentang perdamaian. Keputusan itu tidak akan mencapai apa pun," tegasnya. Pernyataan ini disampaikan menanggapi rencana pertemuan Trump-Putin yang dinilai berpotensi mengabaikan suara Ukraina dalam upaya perdamaian.

Zelensky mengakui kesiapan Ukraina untuk solusi perdamaian yang nyata, namun menekankan pentingnya "perdamaian yang bermartabat". Sayangnya, ia tidak merinci lebih lanjut mengenai syarat-syarat perdamaian tersebut. Konflik yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa dan jutaan pengungsi ini, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Tiga putaran negosiasi sebelumnya antara Rusia dan Ukraina telah gagal. Putin sendiri diketahui menolak berbagai seruan gencatan senjata dari Amerika Serikat, Eropa, dan Ukraina. Ia juga belum bersedia berdialog langsung dengan Zelensky, yang menurut presiden Ukraina itu merupakan kunci untuk mencapai kesepakatan.
Trump, yang mengumumkan pertemuan dengan Putin pada 15 September mendatang, menyatakan akan ada "pertukaran wilayah demi kebaikan Ukraina dan Rusia", tanpa menjelaskan detailnya. Pertemuan puncak di Alaska ini akan menjadi yang pertama antara presiden AS dan Rusia yang menjabat sejak pertemuan Joe Biden dan Putin di Jenewa pada Juni 2021. Keduanya terakhir bertemu pada 2019 di Jepang. Pertanyaan besar kini muncul: akankah pertemuan rahasia ini membawa angin segar bagi perdamaian di Ukraina, atau justru memperkeruh situasi?

