Ketegangan di Yaman mencapai puncaknya setelah Arab Saudi secara tegas menyerukan pasukan separatis untuk segera mundur dari wilayah yang baru mereka rebut. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Riyadh menyatakan dukungan penuh terhadap pemerintah Yaman yang sah, siap menghadapi konfrontasi militer jika diperlukan. Seruan damai ini datang setelah serangkaian peristiwa yang memperkeruh situasi di negara tersebut.
Pernyataan ultimatum ini, yang disampaikan akhir pekan lalu, menyusul laporan serangan udara Saudi terhadap posisi separatis di provinsi Hadramawt, Yaman. Jenderal Turki al-Malki, juru bicara koalisi pimpinan Saudi, menegaskan bahwa mereka akan bertindak "secara langsung dan pada saat yang tepat… untuk melindungi warga sipil," demikian dikutip dari kantor berita Saudi, SPA.

Di sisi lain, Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab, menyatakan tidak gentar setelah serangan udara tersebut. Mereka sebelumnya telah memperingatkan pada Jumat (26/12) bahwa serangan itu tidak akan menggoyahkan tekad mereka. Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, melalui akun media sosial X, secara eksplisit menuntut agar pasukan STC "menyerahkan secara damai" dua provinsi regional kepada pemerintah Yaman.
Dalam beberapa minggu terakhir, STC berhasil merebut sejumlah wilayah penting di Yaman, sebuah langkah yang bertujuan untuk menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang pernah merdeka. Keberhasilan ini, menurut para ahli, telah menjadi pukulan telak dan memalukan bagi Arab Saudi, kekuatan regional dominan yang selama ini menjadi pendukung utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Farea al-Muslimi dari lembaga think tank Chatham House di London, kepada AFP, menyatakan bahwa STC telah melanggar "garis merah" Riyadh. "Mempermalukan Arab Saudi adalah satu hal yang buruk. Dan mempermalukan Arab Saudi di depan umum adalah hal yang jauh lebih buruk. Dan itulah yang mereka lakukan," ujarnya, memperingatkan bahwa situasi bisa memburuk dengan sangat cepat.
Sementara itu, seorang pejabat militer Yaman mengungkapkan kepada AFP bahwa sekitar 15.000 tentara Yaman yang didukung Saudi telah berkumpul di daerah perbatasan. Namun, mereka masih menunggu perintah untuk menghadapi para separatis, menambah ketidakpastian akan arah konflik yang semakin memanas ini.
