Internationalmedia.co.id – Alassane Ouattara diprediksi kuat akan mengamankan kursi kepresidenan Pantai Gading untuk periode keempat. Data awal menunjukkan keunggulan signifikan Ouattara dalam pemilihan yang tidak diikuti oleh dua rival utama.
Pemilu yang digelar pada akhir pekan lalu ini diikuti oleh hampir sembilan juta pemilih di negara penghasil kakao terbesar di dunia tersebut. Pemilu ini menjadi sorotan di tengah tantangan kudeta dan serangan kombatan yang melanda sebagian besar wilayah Afrika Barat.

Komisi Pemilihan Umum Pantai Gading dijadwalkan mengumumkan pemenang pada Senin sore waktu setempat. Namun, hasil awal yang beredar menunjukkan Ouattara memenangkan lebih dari 90 persen suara, dengan tingkat partisipasi mendekati 100 persen di wilayah-wilayah yang menjadi basis pendukungnya di utara.
Tak hanya itu, Ouattara juga unggul di daerah-daerah yang secara tradisional merupakan basis oposisi di selatan dan sebagian pusat ekonomi Abidjan. Kondisi ini kontras dengan hari pemungutan suara, di mana banyak tempat pemungutan suara terlihat sepi.
Presiden Komisi Pemilihan Umum, Ibrahime Coulibaly-Kuibiert, sebelumnya memperkirakan tingkat partisipasi pemilih sekitar 50 persen. Tingkat partisipasi ini mirip dengan pemilu tahun 2020, di mana Ouattara memenangkan 94 persen suara dalam pemilu yang diboikot oleh lawan-lawan utamanya.
Ketidakhadiran rival utama Ouattara, yaitu mantan presiden Laurent Gbagbo dan mantan CEO Credit Suisse, Tidjane Thiam, menjadi faktor penting dalam pemilu kali ini. Gbagbo dilarang mencalonkan diri karena hukuman pidana, sementara Thiam karena telah memperoleh kewarganegaraan Prancis.
"Ketidakhadiran mereka, seruan mereka untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu, dan iklim ketegangan yang memburuk dalam beberapa hari terakhir menandakan demobilisasi pemilih yang signifikan," ujar William Assanvo, seorang peneliti di Institut Studi Keamanan (ISS).
Di kota Gagnoa di selatan, yang merupakan bekas basis Gbagbo, Ouattara memenangkan 92 persen suara, namun dengan tingkat partisipasi pemilih hanya 20 persen. Pihak oposisi telah menolak "legitimasi apa pun" terhadap Ouattara dan menyerukan pemilihan umum baru. Informasi ini dilansir dari Internationalmedia.co.id.
