Militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara yang secara tragis menargetkan kru darurat di Lebanon selatan, menyebabkan empat paramedis tewas dan melukai beberapa lainnya saat mereka dalam misi kemanusiaan. Menurut laporan yang dilansir CNN, Internationalmedia.co.id – News mengabarkan bahwa insiden memilukan ini terjadi di tengah eskalasi konflik di wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa tim penyelamat diserang tiga kali berturut-turut di kota Mayfadoun, Lebanon selatan, pada Rabu (15/4). Laporan awal menyebutkan tiga paramedis tewas, namun Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) kemudian mengoreksi jumlah korban menjadi empat paramedis yang gugur. NNA menambahkan bahwa para kru tersebut sedang menjalankan misi bantuan pasca-serangan sebelumnya yang menargetkan kota tersebut. Mereka menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak saat berada di lokasi.

Insiden ini terjadi di tengah rentetan pemboman Israel di Lebanon, menyusul penembakan proyektil oleh kelompok Hizbullah yang didukung Iran ke Israel pada 2 Maret. Konflik berkepanjangan ini telah menyebabkan kehancuran permukiman dan memaksa 1,2 juta orang mengungsi di Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon pada Rabu (15/4) juga melaporkan bahwa setidaknya 2.196 orang telah tewas di Lebanon akibat serangan Israel, termasuk 172 anak-anak dan 93 petugas kesehatan. Dalam 24 jam terakhir saja, korban tewas di Lebanon mencapai setidaknya 29 orang.
Serangan terhadap tenaga medis ini memicu kecaman keras dari komunitas internasional. Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) mengutuk tindakan tersebut, mengingatkan bahwa tenaga medis harus dilindungi di bawah hukum internasional. OHCHR melalui platform X pada Kamis (16/4) menegaskan, "Menyerang warga sipil secara sengaja sama dengan kejahatan perang. Akuntabilitas sangat penting." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi perlindungan bagi mereka yang berada di garis depan kemanusiaan, terutama di zona konflik.

