Kota Betlehem, Palestina, yang dikenal sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus, kini kembali diselimuti suka cita Natal setelah dua tahun lamanya terdiam akibat dampak konflik di Gaza. Suasana perayaan yang meriah, dengan ratusan jemaat memadati Gereja, menjadi simbol harapan di tengah gejolak regional. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, kembalinya kemeriahan ini menandai momen penting bagi kota suci tersebut.
Sebelumnya, sejak pecahnya konflik Hamas dan Israel pada Oktober 2023, perayaan Natal di Betlehem nyaris tidak terasa. Namun, pada hari ini, kota di Tepi Barat yang diduduki ini kembali hidup dengan parade yang ramai dan alunan musik merdu, seperti yang dilansir AFP. Perayaan ini berlangsung di tengah gencatan senjata yang rapuh di Gaza, tempat ratusan ribu warga masih berjuang menghadapi musim dingin di tenda-tenda darurat. Di dalam gereja, banyak jemaat yang rela berdiri atau duduk di lantai untuk mengikuti misa tradisional, menunjukkan antusiasme yang luar biasa dalam menyambut Hari Natal.

Pada pukul 23.15 waktu setempat, Rabu (24/12), alunan musik organ yang khidmat mengiringi prosesi puluhan pendeta masuk, disusul oleh Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, yang kemudian memberkati seluruh jemaat. Dalam khotbahnya yang menyentuh, Pizzaballa menyampaikan pesan kuat tentang perdamaian, harapan, dan kelahiran kembali. Ia menegaskan bahwa kisah Kelahiran Yesus tetap relevan dan memberikan cahaya di tengah gejolak zaman modern.
"Natal… mengajak kita untuk melihat melampaui logika dominasi, untuk menemukan kembali kekuatan cinta, solidaritas, dan keadilan," kata Pizzaballa kepada para jemaat. Ia juga berbagi pengalamannya saat mengunjungi Gaza yang dilanda perang pada akhir pekan sebelumnya. Pizzaballa mengakui bahwa "penderitaan masih ada" di sana, meskipun gencatan senjata telah berlaku. "Luka-lukanya memang dalam, namun saya harus mengatakan, di sini juga, di sana juga, seruan Natal mereka bergema," imbuhnya. Ia terkesan oleh "kekuatan dan keinginan mereka untuk memulai kembali" kehidupan, bahkan di tengah kehancuran.
Kembalinya perayaan Natal di Betlehem bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah deklarasi ketahanan dan harapan. Meskipun bayang-bayang konflik masih menyelimuti, cahaya Natal di kota suci ini menjadi pengingat akan kekuatan iman dan keinginan abadi manusia untuk perdamaian.
