Internationalmedia.co.id – News – Sebuah inovasi luar biasa terjadi di Garut, Jawa Barat, di mana limbah industri kulit yang selama puluhan tahun menjadi masalah lingkungan, kini disulap menjadi pupuk organik cair bernilai tinggi. Proyek ini tidak hanya menawarkan solusi berkelanjutan, tetapi juga memberdayakan sembilan warga binaan Lapas Kelas IIA Garut yang kini menjadi bagian integral dari proses produksi di PT Mandraguna Pusaka Indonesia. Kisah ini menyoroti potensi kolaborasi lintas sektor yang mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi sirkular.
Nazmul, Direktur Operasional dan HRD PT Mandraguna Pusaka Indonesia, awalnya harus memberikan instruksi terperinci kepada sembilan warga binaan yang baru bergabung. Mereka ditempatkan di berbagai posisi, mulai dari bagian produksi, pengemasan, gudang, hingga pencucian bahan baku. Namun, Nazmul mengaku terkejut dengan kecepatan adaptasi dan pemahaman mereka.

"Awalnya pagi-pagi saya kasih job, misalnya bagian produksi. Mereka cepat paham tugas mereka. Sekarang tidak perlu disuruh-suruh atau diarahkan lagi, mereka sudah tahu jobdesk mereka apa," ungkap Nazmul kepada internationalmedia.co.id di pabrik pupuk asam amino di Karangpawitan, Garut. Sikap kooperatif dan adaptif para warga binaan ini dengan cepat menghilangkan kekhawatiran awal pihak perusahaan, bahkan membangun kedekatan dan suasana kerja yang cair.
Kesembilan warga binaan tersebut sedang menjalani program asimilasi dari Lapas Kelas IIA Garut. Setiap hari, di bawah pengawasan ketat dua petugas, mereka terlibat langsung dalam seluruh tahapan produksi pupuk organik cair yang berbahan dasar limbah kulit. Kerja sama antara lapas dan PT Mandraguna ini menjadi bukti nyata bahwa keterampilan warga binaan dapat diasah dan diuji dalam lingkungan kerja profesional, bukan hanya sebatas pelatihan.
Produksi Melonjak Empat Kali Lipat
Dampak positif dari kehadiran para warga binaan ini terlihat jelas pada peningkatan kapasitas produksi. Nazmul mengenang, di awal masa belajar, kapasitas produksi pupuk cair hanya berkisar 3.000 liter. Seiring berjalannya waktu dan semakin terbiasanya para pekerja dengan proses, kapasitas melonjak menjadi 6.000 liter, dan kini mencapai angka fantastis 12.000 liter. Peningkatan empat kali lipat ini menunjukkan efisiensi dan dedikasi tinggi dari tim produksi.
Proses produksi pupuk ini meliputi pencucian limbah kulit, perebusan, pencampuran, tahap formulasi, dan fermentasi sebelum akhirnya dikemas. Seluruh tahapan krusial ini melibatkan warga binaan, sementara PT Mandraguna fokus pada aspek legalitas produk, strategi pemasaran, serta pengendalian kualitas. Kolaborasi ini, menurut Nazmul, bermula dari persahabatan dan kesamaan visi dalam komunitas pupuk, yang kemudian terwujud dalam kerja sama formal sekitar tiga bulan lalu, dengan produksi aktif selama dua bulan terakhir.
Solusi Jangka Panjang untuk Limbah Garut
Rian, pemilik PT Mandraguna Pusaka Indonesia, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari persoalan lingkungan yang telah lama membelenggu Garut. Sebagai salah satu sentra industri kulit terbesar, Garut menghadapi tantangan serius terkait limbah yang menumpuk selama bertahun-tahun. "Isu industri kulit di Kabupaten Garut klasik karena berkaitan dengan kultur dan budaya dari dulu. Bahkan sampai hari ini banyak UMKM yang hidup," terang Rian.
Melihat volume limbah yang masif, Mandraguna mengembangkan formula revolusioner untuk mengolah limbah kulit sapi dan domba menjadi pupuk organik cair berbasis asam amino. Apa yang tadinya menjadi ancaman lingkungan, kini berubah menjadi komoditas ekonomi yang berharga. "Terbayangkan selama puluhan tahun masalah limbah ini tidak pernah terselesaikan, sekarang malah jadi manfaat nggak hanya terhadap lingkungan, tapi menjadi ekonomi sirkular," ujar Rian.
Pupuk ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk oleh petani sekaligus mendongkrak produktivitas pertanian. Sebelum dipasarkan secara luas, produk ini telah sukses diuji coba pada tanaman jagung di kawasan food estate Gunung Mas, Kalimantan Tengah.
Target Produksi Dua Juta Liter Setahun
Kalapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, mengungkapkan bahwa permintaan dari Trubus saja sudah mencapai sekitar dua juta liter per tahun, yang berarti kebutuhan produksi rata-rata sekitar 5.000 liter per hari. Dengan kapasitas produksi yang kini mencapai 12.000 liter, Lapas Garut optimistis dapat memenuhi permintaan tersebut. "Ini baru pemasaran online," kata Rusdedy, sembari menambahkan rencana pengembangan pemasaran secara offline dengan menyasar petani menggunakan merek yang dikembangkan lapas.
Meskipun demikian, skala pengolahan limbah saat ini masih relatif kecil dibandingkan total persoalan limbah industri kulit di Garut. Rusdedy memperkirakan fasilitas yang ada baru mampu menyerap sekitar dua persen limbah dari perajin kulit. Target berikutnya adalah meningkatkan kapasitas hingga mampu menampung sekitar 20 persen. "Kami siap olah limbah seluruh Garut kalau dari pemda memfasilitasi," tegasnya.
Rian juga berharap model inovatif ini tidak hanya berhenti di Garut. Persoalan limbah industri kulit, menurutnya, juga ditemukan di berbagai sentra industri lain di Indonesia, seperti Rancaekek, Cianjur, Banten, Solo, Magelang, Yogyakarta, hingga beberapa daerah di Jawa Timur.
"Kita jadikan produk pupuk organik cair ini ada nilai ekonomis dan manfaat untuk petani. Kita menciptakan produk ini sampai kita jadi pelopor pupuk organik berbahan limbah kulit sapi dan domba satu-satunya di Indonesia," harap Rian. Ia mengklaim tiga keunggulan utama pupuk asam amino berbahan dasar limbah kulit: efisiensi pemakaian pupuk bagi petani, peningkatan produktivitas hasil tani hingga 30-100 persen, dan terciptanya pangan yang lebih sehat karena berbasis organik. Inovasi ini membuktikan bahwa dengan sentuhan kreativitas dan kolaborasi, masalah lingkungan dapat diubah menjadi berkah yang berkelanjutan.
