Kematian tragis Zetro Leonardo Purba, staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Lima, Peru, menggemparkan publik. Internationalmedia.co.id mengungkap fakta mengejutkan dari pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Peru, Carlos Malaver, kepada parlemen Selasa (2/9) lalu. Zetro, Penata Kanselerai Muda berusia 40 tahun, tewas ditembak tiga kali di kepala. Yang lebih mengejutkan, tidak ada barang berharga yang hilang dari korban.
Malaver menyebut insiden ini sebagai "pembunuhan berencana," sebuah pembunuhan kontrak. "Mereka menunggu dan peluru mengenai kepalanya; mereka ingin membunuhnya," tegas Malaver, menggambarkan aksi para pelaku yang diduga telah mengincar nyawa Zetro. Kejadian nahas ini terjadi Senin (1/9) malam, saat Zetro tiba di kediamannya usai bersepeda bersama istri. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.

Dua rekaman CCTV memperlihatkan pelaku, yang mengenakan helm, melepaskan dua tembakan ke arah Zetro hingga korban jatuh. Pelaku kemudian melancarkan tembakan ketiga sebelum melarikan diri dengan sepeda motor yang dikendarai oleh seseorang. Hingga kini, polisi belum menangkap pelaku dan motif pembunuhan masih diselidiki.
Kejadian ini terjadi di tengah lonjakan angka kejahatan di Peru. Pemerintah Presiden Dina Boluarte tengah berjuang mengatasi peningkatan kasus pembunuhan dan pemerasan. Data resmi mencatat 6.041 pembunuhan antara Januari hingga pertengahan Agustus 2025, angka tertinggi dalam periode yang sama sejak 2017. Kementerian Luar Negeri Peru memastikan kasus ini akan diselidiki tuntas dan memberikan perlindungan penuh kepada KBRI. Zetro sendiri baru bertugas di Peru sekitar lima bulan. Misteri kematian Zetro pun menjadi sorotan, mengingatkan betapa rawannya situasi keamanan di Peru saat ini.
