Internationalmedia.co.id melaporkan, Kim Keon Hee, mantan Ibu Negara Korea Selatan, resmi ditahan. Penahanan ini membuat sejarah baru bagi Korsel, karena untuk pertama kalinya, mantan Presiden dan Ibu Negara sama-sama mendekam di balik jeruji besi. Kim ditahan atas tuduhan manipulasi saham dan korupsi, beberapa jam setelah Pengadilan Distrik Pusat Seoul mengabulkan permintaan surat perintah penangkapan dari jaksa. Keputusan pengadilan didasarkan pada kekhawatiran akan potensi perusakan barang bukti.
Sejak awal Agustus, Kim menjalani serangkaian interogasi terkait berbagai dugaan pelanggaran hukum. Tuduhan yang dilayangkan kepadanya meliputi kolusi dengan para pedagang saham untuk menaikkan harga saham tertentu antara tahun 2009 dan 2012. Ia juga diduga menerima hadiah mewah, termasuk tas tangan bermerek senilai USD 2.200, yang melanggar undang-undang antikorupsi Korsel. Lebih lanjut, Kim dituduh ikut campur dalam proses pencalonan anggota parlemen dari partai yang dipimpin suaminya, Yoon Suk Yeol, mantan Presiden yang juga tengah ditahan. Video yang beredar memperlihatkan Kim menerima tas tangan Dior dari seorang penggemar, kembali memicu kritik publik.

Kim sendiri telah menyampaikan permohonan maaf publik dan menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan. Namun, penahanannya tetap dilakukan. Dakwaan terhadapnya mencakup pelanggaran hukum pasar modal dan investasi keuangan, serta hukum dana politik.
Penahanan Kim terjadi sehari setelah kantor pusat Partai Kekuatan Rakyat (PPP), partai yang pernah menaungi Yoon Suk Yeol, digeledah oleh jaksa. Penggeledahan dilakukan untuk mengumpulkan bukti terkait dugaan campur tangan Kim dalam pemilu parlemen. Langkah ini menuai kecaman dari pemimpin oposisi, Song Eon Seog, yang menyebutnya sebagai "perilaku gangster" dan bentuk penindasan politik.
Yoon Suk Yeol sendiri telah dimakzulkan dan dicopot dari jabatannya pada April lalu karena deklarasi darurat militer yang kontroversial pada Desember 2024. Ia ditahan sejak Juli, dan penyelidikan terhadap kasusnya masih berlanjut. Jaksa juga menggeledah perusahaan interior yang diduga terkait dengan Kim, terkait dugaan favoritisme dalam renovasi kantor kepresidenan. Kasus ini menjadi sorotan tajam, menandai kejatuhan dramatis bagi mantan pasangan pemimpin Korsel tersebut.

