Internationalmedia.co.id – Madagaskar kembali menghadapi babak baru dalam sejarah politiknya. Andry Rajoelina, sang presiden, dimakzulkan oleh parlemen atas tuduhan desersi tugas. Tak lama berselang, seorang kolonel militer muncul dan mendeklarasikan diri sebagai pemimpin sementara. Apakah ini akhir dari sebuah era atau awal dari ketidakpastian baru?
Majelis rendah parlemen Madagaskar sepakat untuk memakzulkan Rajoelina dengan 130 suara, jauh melampaui batas konstitusi yang hanya membutuhkan 2/3 suara dari total 163 anggota. Pemakzulan ini menjadi pukulan telak bagi Rajoelina, yang sebelumnya telah bersembunyi di tengah gelombang demonstrasi yang mengguncang negara kepulauan tersebut. Warga turun ke jalan menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah.

Setelah pemakzulan, unit militer elite Madagaskar, CAPSAT, membuat pernyataan mengejutkan. "Kami telah mengambil alih kekuasaan," tegas Kolonel Michael Randrianirina, Kepala Unit Militer CAPSAT. Klaim ini langsung memicu reaksi keras dari Kantor Kepresidenan Madagaskar, yang menyebut tindakan militer sebagai upaya kudeta.
Kantor Kepresidenan bersikeras bahwa Rajoelina masih menjabat sebagai presiden dan akan menjaga ketertiban konstitusional. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Para perwira militer yang merebut kekuasaan mengumumkan bahwa pemimpin mereka, Kolonel Michael Randrianirina, akan dilantik sebagai presiden sementara pada Jumat (17/10).
Kolonel Randrianirina menjanjikan pemilu dalam dua tahun ke depan setelah Rajoelina dimakzulkan. Komunitas internasional pun bereaksi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam tindakan tersebut sebagai pengambilalihan kekuasaan yang ‘inkonstitusional’.
Madagaskar kini terjerumus ke dalam pergolakan politik terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kolonel Randrianirina, yang akan dilantik sebagai presiden transisi, dikenal sebagai pengkritik pemerintahan Rajoelina. Ia bahkan pernah dipenjara pada tahun 2023 karena dituduh merencanakan kudeta.
Situasi di ibu kota Antananarivo dilaporkan tenang. Demonstrasi yang dipicu oleh Gen Z sejak 25 September lalu, menuntut perubahan sistemik di Madagaskar akibat kekurangan air dan energi, serta mendukung intervensi militer.
Rajoelina sendiri naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta yang didukung militer pada tahun 2009. Ia terpilih sebagai presiden pada tahun 2018 dan kembali terpilih dalam pemilu tahun 2023 yang diwarnai sengketa. Kini, Madagaskar menjadi negara terbaru di antara bekas koloni Prancis yang jatuh di bawah kendali militer sejak tahun 2020, mengikuti jejak Mali, Burkina Faso, Niger, Gabon, dan Guinea. Internationalmedia.co.id akan terus memantau perkembangan situasi di Madagaskar.
