Kutai Barat, Kalimantan Timur, kini tengah menghadapi ancaman serius dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas. Internationalmedia.co.id – News mencatat, hingga Rabu (19/8) lalu, total 415,51 hektare lahan di 72 lokasi berbeda telah hangus dilalap api, meninggalkan jejak kehancuran ekologis yang signifikan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutai Barat, Suwalas Daya Guna, menyatakan bahwa kondisi karhutla saat ini belum mencapai tahap yang mengkhawatirkan secara keseluruhan. Namun, ia tak menampik adanya peningkatan signifikan dalam jumlah titik api yang muncul setiap harinya. "Kalau mengkhawatirkan memang belum. Cuma sekarang yang biasanya paling 2-3 titik lokasi, sekarang sudah mencapai 9 sampai 10 titik dalam satu hari," ujar Suwalas, seperti dilansir internationalmedia.co.id pada Kamis (20/8).

Hampir seluruh kecamatan di Kutai Barat dilaporkan terdampak karhutla. Namun, dari sekian banyak wilayah, dua kecamatan menjadi sorotan utama karena tingkat keparahannya, yakni Kecamatan Barong Tongkok dan Kecamatan Damai. Kedua wilayah ini menunjukkan indikasi penyebaran api yang lebih agresif dan sulit dikendalikan.
Penanganan di Kecamatan Damai, khususnya, menghadapi rintangan berat. Lokasi titik api yang terpencil dan medan yang sulit dijangkau menjadi kendala utama bagi tim pemadam. "Di Kecamatan Damai masih ada yang belum bisa dipadamkan karena jarak tempuh dan medan di sana susah untuk akses menuju titik api. Apinya sudah mulai menjalar ke dalam, jadi akses menuju ke dalam ini yang kita masih kesulitan," terang Suwalas.
Selain faktor medan, pasokan air juga menjadi tantangan serius bagi petugas pemadam. Di Kecamatan Damai, sumber air yang digunakan bukan berasal dari Sungai Mahakam yang lebih besar, melainkan mengandalkan kawasan Sungai Kedang Pahu. Keterbatasan akses dan ketersediaan air dari sumber tersebut semakin memperumit upaya pemadaman, membuat api terus menjalar tanpa henti. Situasi ini menyoroti kompleksitas upaya pemadaman karhutla di wilayah pedalaman, yang membutuhkan strategi dan sumber daya yang lebih adaptif untuk mengatasi tantangan alam dan logistik.
