Internationalmedia.co.id – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, baru-baru ini melakukan inspeksi mendadak ke salah satu kapal perang andalan negaranya. Dalam kunjungan tersebut, Kim Jong Un dengan nada tinggi menyatakan bahwa kapal penghancur berbobot 5.000 ton itu harus menjadi "senjata pamungkas untuk menghukum setiap provokasi musuh".
Kapal perang yang dimaksud adalah Choe Hyon, salah satu dari dua kapal penghancur berbobot 5.000 ton yang baru saja diluncurkan Pyongyang tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari ambisi besar Kim Jong Un untuk memperkuat kekuatan Angkatan Laut Korea Utara.

Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa kunjungan Kim Jong Un ke kapal perang Choe Hyon dilakukan pada hari Minggu (5/10) waktu setempat. Menurut KCNA, Kim Jong Un menegaskan bahwa kapal perang ini adalah "bukti nyata kemajuan pesat angkatan bersenjata Korea Utara".
"Kemampuan angkatan laut kita yang tak tertandingi harus dikerahkan di lautan luas untuk sepenuhnya mencegah, melawan, dan menghukum setiap provokasi musuh demi menjaga kedaulatan negara," tegas Kim Jong Un dalam pernyataannya.
Kim Jong Un bahkan berjanji untuk membangun kapal penghancur ketiga dari kelas yang sama pada Oktober tahun depan. Langkah ini semakin mempertegas komitmennya untuk memperkuat kekuatan maritim Korea Utara.
Sementara itu, militer Korea Selatan menduga bahwa kapal perang Choe Hyon kemungkinan dikembangkan dengan bantuan teknologi dari Rusia. Dugaan ini muncul sebagai imbalan atas pengerahan ribuan pasukan Korea Utara untuk mendukung operasi militer Rusia di Ukraina.
Foto-foto yang dirilis oleh KCNA menunjukkan Kim Jong Un dengan seksama mengamati ruang kendali kapal, dengan monitor menampilkan pemandangan lautan di sekitar Semenanjung Korea. Dalam salah satu foto, Kim Jong Un terlihat menunjuk ke peta yang disamarkan di depan para jenderal militer.
Kunjungan Kim Jong Un ini dilakukan sehari setelah pengumuman pengerahan "aset-aset khusus ke target-target utama" sebagai respons terhadap peningkatan pengerahan senjata Amerika Serikat di wilayah Korea Selatan.
Dalam pernyataannya pada hari Sabtu (4/10), Kim Jong Un memperingatkan bahwa musuh-musuh Korea Utara "harus mempertimbangkan ulang arah pergerakan lingkungan keamanan mereka".
Amerika Serikat saat ini menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan untuk menangkal potensi ancaman militer dari Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Bulan lalu, militer AS dan Korea Selatan baru saja menggelar latihan gabungan dengan Jepang.
Pyongyang secara rutin mengecam latihan militer gabungan semacam itu sebagai latihan untuk menginvasi wilayahnya. Namun, AS dan Korea Selatan bersikeras bahwa latihan tersebut bersifat defensif dan bertujuan untuk menjaga stabilitas di kawasan.
