Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Israel mengisyaratkan kesediaan untuk membuka jalur negosiasi langsung dengan Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Jumat (10/4/2026), mengumumkan bahwa ia telah menginstruksikan kabinetnya agar segera memulai pembicaraan dengan perwakilan Lebanon, menanggapi seruan berulang dari pihak Beirut.
Dalam pernyataan yang dirilis kantor Netanyahu, ditegaskan bahwa inti dari negosiasi tersebut akan berpusat pada upaya pelucutan senjata kelompok Hizbullah. Israel, menurut pernyataan tersebut, menggarisbawahi komitmennya untuk membangun hubungan damai dengan pemerintah Lebanon. "Negosiasi akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon. Israel menghargai seruan Perdana Menteri Lebanon hari ini untuk demiliterisasi Beirut," bunyi siaran pers tersebut.

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, dilaporkan akan mewakili Israel dalam dialog penting ini.
Pengumuman Netanyahu ini datang selang sehari setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara paling intens di Lebanon sejak pecahnya perang dengan Hizbullah pada 2 Maret lalu, yang telah menewaskan lebih dari 200 orang.
Di sisi Lebanon, kabinet pada Kamis (9/4) telah mengeluarkan instruksi tegas kepada pasukan keamanannya untuk membatasi kepemilikan senjata di Beirut hanya pada lembaga-lembaga negara, sebuah langkah yang secara luas diinterpretasikan sebagai peringatan keras bagi Hizbullah. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menekankan pentingnya "memperkuat penegakan penuh otoritas negara atas Provinsi Beirut dan memonopoli senjata hanya di tangan otoritas yang sah."
Meskipun pemerintah Lebanon telah melarang segala bentuk aktivitas militer Hizbullah pada awal Maret, tak lama setelah pecahnya konflik, namun larangan tersebut gagal menghentikan operasi militer kelompok yang didukung Iran tersebut. Beirut sendiri memiliki komitmen untuk melucuti senjata Hizbullah pada tahun 2025, yang merupakan satu-satunya kelompok bersenjata yang masih eksis pasca perang saudara Lebanon 1975-1990.
Sebagai catatan, pada bulan Desember lalu, perwakilan sipil dari kedua negara telah mengadakan pembicaraan langsung pertama mereka dalam beberapa dekade terakhir, sebagai bagian dari mekanisme pemantauan gencatan senjata. Perkembangan terbaru ini membuka babak baru dalam dinamika konflik yang kompleks di Timur Tengah.

