Internationalmedia.co.id – News melaporkan sebuah klaim mengejutkan dari media pemerintah Iran, Fars, yang menyatakan bahwa Teheran kembali menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4) waktu setempat. Langkah ini disebut-sebut sebagai respons atas serangan militer Israel terhadap kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Namun, klaim tersebut dengan cepat dibantah oleh Amerika Serikat, menciptakan kebingungan di tengah ketegangan regional yang memanas.
Selat Hormuz, jalur maritim vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi pusat perhatian. Laporan penutupan ini muncul meskipun data dari MarineTraffic, layanan pelacakan kapal, menunjukkan dua kapal tanker, NJ Earth milik Yunani dan Daytona Beach berbendera Liberia, berhasil melintasi selat tersebut. Ini merupakan pelayaran pertama yang tercatat sejak gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan, menambah kerumitan narasi yang beredar.

Menanggapi laporan dari kantor berita Fars mengenai penutupan Selat Hormuz, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dengan tegas membantah kebenarannya. Dalam keterangannya kepada wartawan, Leavitt menyatakan bahwa laporan tersebut "palsu" dan "sama sekali tidak dapat diterima." Ia bahkan menambahkan bahwa "lalu lintas di selat justru meningkat hari ini," sebuah pernyataan yang secara langsung menentang klaim Teheran.
Situasi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Kesepakatan tersebut dicapai setelah Trump sempat mengeluarkan peringatan keras, mengancam akan memerintahkan serangan dahsyat terhadap Teheran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz, menunjukkan betapa krusialnya jalur ini dalam dinamika geopolitik.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, melalui platform media sosial X, menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa "syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih — gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya." Araghchi juga menyoroti "pembantaian di Lebanon" dan menyatakan bahwa "bola ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya."
Namun, Leavitt mengklarifikasi bahwa Lebanon tidak termasuk dalam lingkup kesepakatan gencatan senjata AS-Iran, memperjelas batasan komitmen yang ada. Kontradiksi informasi ini menyoroti ketegangan yang terus membara di Timur Tengah, dengan Selat Hormuz sekali lagi menjadi barometer sensitif bagi stabilitas regional.

