Internationalmedia.co.id – Pemerintah Iran secara resmi menyatakan ketidakhadirannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdamaian Gaza yang diselenggarakan di Mesir. Penolakan ini datang meskipun Kairo telah mengirimkan undangan langsung kepada Teheran.
Menurut laporan dari AFP dan Al Arabiya, Senin (13/10/2025), baik Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, maupun Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi, dipastikan tidak akan menghadiri KTT yang akan berlangsung di Sharm el-Sheikh. Kantor berita IRNA mengonfirmasi bahwa undangan dari Mesir diterima pada Minggu (12/10) malam.

KTT tersebut rencananya akan dipimpin bersama oleh Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Namun, Araghchi menegaskan bahwa keikutsertaan Iran tidak memungkinkan karena adanya sejumlah faktor krusial.
"Baik Presiden Pezeshkian maupun saya tidak dapat berinteraksi dengan pihak-pihak yang telah menyerang rakyat Iran, terus melancarkan ancaman, dan menjatuhkan sanksi kepada kami," ujar Araghchi, merujuk pada keterlibatan AS dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran selama konflik dengan Israel pada Juni lalu.
Meskipun demikian, Iran tetap berkomitmen untuk mendukung setiap inisiatif yang bertujuan mengakhiri apa yang disebutnya sebagai "genosida Israel di Gaza" dan membela hak-hak rakyat Palestina. Sejak Revolusi Islam 1979, dukungan terhadap perjuangan Palestina menjadi pilar utama kebijakan luar negeri Iran, yang tidak mengakui keberadaan Israel secara resmi.
Al-Sisi sebelumnya menjelaskan bahwa KTT di Sharm el-Sheikh bertujuan untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza, meningkatkan upaya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, serta membuka fase baru bagi keamanan regional. Pertemuan ini diharapkan dapat mengkonsolidasikan gencatan senjata di Gaza dan merumuskan kerangka kerja politik pasca-perang. Lebih dari 20 pemimpin negara diperkirakan hadir, namun Israel dan Hamas tidak diundang untuk berpartisipasi.
