Internationalmedia.co.id Pemerintah Iran merespons seruan perdamaian Presiden AS Donald Trump di depan parlemen Israel dengan nada sinis. Teheran mempertanyakan konsistensi seruan tersebut dengan tindakan AS sebelumnya, termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa keinginan perdamaian dan dialog yang disampaikan Trump bertentangan dengan perilaku bermusuhan dan kriminal AS terhadap rakyat Iran. Pernyataan ini merujuk pada agresi militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran.

Pada pertengahan Juni, Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran, serta kawasan permukiman, yang menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas. Serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir utama Iran turut menggagalkan perundingan nuklir antara Teheran dan Washington yang sedang berlangsung saat itu.
Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menewaskan puluhan orang di Israel. Gencatan senjata akhirnya disepakati pada 24 Juni. Dalam pidatonya di Knesset, Trump menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran, menyerahkan keputusan akhir kepada Teheran.
Namun, Iran balik bertanya bagaimana mungkin sebuah negara menyerang wilayah permukiman dan fasilitas nuklir suatu negara di tengah negosiasi politik, menewaskan ribuan orang, lalu menuntut perdamaian dan persahabatan? Teheran juga mengecam pernyataan Trump yang menuduh Iran mendukung terorisme dan mengancam tetangga, menyebutnya sebagai pernyataan tidak bertanggung jawab dan memalukan. Iran balik menuduh AS sebagai produsen utama terorisme dan pendukung rezim Zionis. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa AS tidak memiliki wewenang moral untuk menuduh pihak lain.
