Jakarta – Langkah Meksiko untuk terus memasok minyak ke Kuba kini berada di persimpangan jalan. Tekanan dari Amerika Serikat, khususnya dari mantan Presiden Donald Trump, menjadi pertimbangan utama dalam peninjauan ulang kebijakan tersebut.
Sejak Desember lalu, blokade AS terhadap kapal tanker minyak Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro telah menghentikan pasokan minyak dari Venezuela ke Kuba. Akibatnya, Meksiko menjadi pemasok minyak terbesar bagi Kuba, yang tengah bergulat dengan krisis energi dan pemadaman listrik.

Namun, peran vital Meksiko ini justru menempatkannya dalam radar Washington. Trump bahkan secara terbuka menyatakan bahwa Kuba "siap untuk tumbang" dan mengancam tidak akan ada lagi minyak atau uang yang dikirim ke negara tersebut.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, sebelumnya menegaskan komitmen untuk melanjutkan pengiriman minyak ke Kuba berdasarkan kontrak jangka panjang dan sebagai bentuk bantuan internasional. Akan tetapi, sumber-sumber senior pemerintah Meksiko mengungkapkan bahwa kebijakan ini sedang dievaluasi secara internal.
Kekhawatiran utama adalah potensi permusuhan dengan Trump, yang dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan tekanan terhadap Meksiko. Trump menuding Meksiko dikendalikan oleh kartel narkoba dan mengisyaratkan kemungkinan serangan darat.
Sheinbaum telah berulang kali menekankan bahwa tindakan militer AS sepihak di wilayah Meksiko akan menjadi pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara. "Ada kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa Amerika Serikat dapat mengambil tindakan sepihak di wilayah kami," ujar seorang sumber pemerintah Meksiko.
Selain itu, pemerintah Meksiko juga mencemaskan peningkatan aktivitas drone Angkatan Laut AS di atas Teluk Meksiko sejak Desember lalu. Laporan media lokal, berdasarkan data pelacakan penerbangan, menunjukkan bahwa setidaknya tiga drone Northrop Grumman MQ-4C Triton milik AS telah melakukan penerbangan di atas Teluk Campeche, mengikuti rute yang kerap dilalui kapal tanker pembawa bahan bakar Meksiko ke Kuba.
