Pria berusia 92 tahun ini, menurut pengumuman Dewan Konstitusi Kamerun, meraih 53,7 persen suara, mengungguli pesaing terdekatnya, Issa Tchiroma Bakary, yang memperoleh 35,2 persen suara. Kemenangan ini diraih meskipun kampanye Biya terbilang minim kehadiran fisik, lebih mengandalkan platform virtual dan citra yang dibangun selama bertahun-tahun.
Kampanye virtual Biya menuai kritik, dengan beberapa pihak menuding penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam materi kampanyenya. Namun, hal itu tidak menghalangi Biya untuk mengamankan masa jabatan baru.

Sebagai presiden kedua Kamerun sejak kemerdekaan pada tahun 1960, Biya dikenal dengan gaya kepemimpinan yang kuat. Ia memiliki wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat penting, serta menindak tegas oposisi. Meskipun dihormati di kancah diplomatik, kepemimpinannya juga menuai kritik dari PBB dan negara-negara Barat terkait isu hak asasi manusia dan tata kelola pemerintahan.
Dengan usia yang semakin senja dan rumor kesehatan yang terus beredar, banyak pihak bertanya-tanya bagaimana Biya akan memimpin Kamerun di periode kedelapannya. Namun, satu hal yang pasti, ia telah membuktikan ketangguhannya dalam mempertahankan kekuasaan di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik.
Judul Alternatif:
- Kamerun Kembali Dipimpin Pria Berusia 92 Tahun
- 43 Tahun Berkuasa, Siapa Sebenarnya Paul Biya?
- Kamerun Memilih, Dunia Terkejut
- Rahasia Kekuasaan Presiden Kamerun Terungkap
- Kamerun Era Baru di Bawah Presiden yang Sama?
