Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang kerap menyelimuti negara-negara tetangga kini terkuak penyebab utamanya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa pergerakan anginlah yang menjadi pemicu utama fenomena lintas batas ini.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa hembusan angin musiman secara rutin membawa partikel asap melintasi perbatasan. "Asap karhutla sampai ke negara tetangga karena terbawa angin," kata Ardhasena dalam keterangannya di Jakarta, Senin lalu. Ia lebih lanjut memaparkan bahwa pola angin musiman yang terjadi secara berkala memiliki peran krusial. Kondisi ini memungkinkan asap dari wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan, untuk mencapai kawasan negara-negara lain, seperti Malaysia dan Singapura.

Menyikapi situasi ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengambil alih koordinasi penanganan dan antisipasi dampak asap karhutla. Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif. Menurutnya, karhutla adalah masalah yang tidak mengenal batas administrasi maupun negara, sehingga penanganannya harus dilakukan bersama tanpa spekulasi atau saling menuding sumber asap.
"Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas," ujar Berton.
Pemerintah Indonesia, kata Berton, sangat memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terkait potensi dampak asap lintas batas. Oleh karena itu, Indonesia telah mengerahkan sumber daya yang sangat besar dan optimal untuk mengendalikan karhutla di lapangan. Upaya ini mencakup pemadaman api dari darat, patroli dan pemadaman udara, operasi water bombing skala besar, hingga pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan.
Tidak hanya itu, penguatan personel TNI-Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat juga terus digalakkan. Aspek penegakan hukum terhadap para pelaku pembakaran hutan dan lahan juga menjadi prioritas untuk memberikan efek jera.
Berton merinci, saat ini 52 pesawat telah dikerahkan khusus untuk operasi karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 30 pesawat di antaranya beroperasi intensif di Kalimantan, sementara 22 pesawat lainnya ditempatkan di Sumatra. Bahkan, kekuatan TNI Angkatan Udara (AU) juga turut diperbantukan untuk memperkuat operasi penanganan di wilayah Kalimantan.
"Fokus utama pemerintah saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin. Karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan," pungkas Berton.
