Internationalmedia.co.id melaporkan adanya klaim saling bertolak belakang terkait pelanggaran gencatan senjata antara Iran dan Israel. Israel menuduh Iran meluncurkan rudal ke wilayahnya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan, sementara Iran dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
Pernyataan penolakan keras disampaikan oleh Staf Umum Militer Iran melalui media pemerintah. Laporan televisi negara menyebutkan tidak ada peluncuran rudal dari Iran ke wilayah yang diduduki Israel dalam beberapa jam terakhir. Seorang pejabat keamanan senior Iran, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya, menguatkan hal tersebut kepada CNN, menyatakan bahwa hingga pukul 07.30 waktu setempat, Selasa (24/6), tidak ada rudal yang diluncurkan ke arah musuh. Hal senada juga diungkapkan oleh kantor berita ISNA dan Nour News.

Sebaliknya, Menteri Pertahanan Israel, Katz, menyatakan telah memerintahkan balasan tegas atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran. Ia menginstruksikan militer Israel untuk melancarkan serangan kuat ke target-target di Teheran. Pernyataan ini menyusul laporan militer Israel yang mendeteksi dua rudal diluncurkan dari Iran pada Selasa pagi, memicu sirene peringatan serangan udara di wilayah utara Israel. Militer Israel mengklaim berhasil mencegat rudal-rudal tersebut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan gencatan senjata bertahap selama 24 jam antara Iran dan Israel, dimulai pukul 04.00 GMT Selasa (24/6). Trump menyebut Iran akan menghentikan operasi militernya terlebih dahulu, diikuti Israel 12 jam kemudian. Pemerintah Israel mengonfirmasi kesepakatan gencatan senjata bilateral, namun Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hal tersebut. Hanya media-media pemerintah Iran yang memberitakan gencatan senjata itu. Ketidakjelasan mengenai status resmi gencatan senjata dari pihak Iran, di tengah klaim peluncuran rudal, menciptakan situasi yang penuh teka-teki.
